Setiap perjalanan pasti akan menemukan akhir. Harapan baik terbangun diawal bahkan mungkin terselip tak terduga pada prosesnya. Terkadang kita gak sadar, telah membawa serta seluruh harap itu seorang diri, lupa bahwa ada peran terbaik yang membuat proses itu menjadi mudah terlewati.
Hari ini aku belajar!
Anakku yang sedang mengumpulkan data untuk Proyek Inovasi Alat, seperti biasa memilih duduk di kursi belakang kendaraan kami. Aku bertanya padanya, bagaimana ia melewati hari ini. Dan seperti hari-hari lainnya, dia mengatakan oke, kemudian ingin cepat pulang karena mengantuk.
Aku tahu alasan yang membuatnya merasa lelah. Tapi bukan pertanda ia tidak menikmati prosesnya. Justru, hari ini kami tersadarkan akan suatu nikmat besar dari proses menuju perjalanan akhir semester ini. Tanpa kami duga, proyek yang awalnya diragu untuk dilanjutkan, ternyata setelah kuesioner disebar pada beberapa kontak yang kami punya, kami malah mendapatkan apresiasi yang baik.
Kami belajar! Lebih tepatnya aku yang belajar dari kemudahan dari-Nya, dari feedback yang didapatkannya, dari kesediaan mereka mengisi, dan yang terakhir dari senyum anakku!
Ya! Senyum yang hadir padanya merupakan hal penting bagiku, dengannya harapan baru pun muncul; semoga ia semakin yakin dengan kediriannya, dengan kemampuannya, dengan pilihannya. Meskipun kami belum bicara jauh soal konsekuensi, akan tetapi aku pribadi mulai merasakan hangatnya sebuah harap yang datang setelah ia mengupayakan.
Rasanya aku ingin secepatnya bilang, "Nak! Aku gak peduli hasilnya seperti apa, aku tetap bahagia dengan dirimu yang semakin bertumbuh. Apapun yang kamu hadapi nanti, tetaplah yakin pada tujuan, sekalipun kamu harus sampai dengan cara merangkak, aku tetap mau temani kamu sampai akhir."
Ah, benar! Hari ini aku benar-benar belajar!
Ini memang baru awal dari sebuah tahapan, belum pula masuk pada bagian paling seru. Siklusnya masih panjang, artinya akan ada tantangan yang menantinya di depan sana. Maka, sedari kini, aku perlu menginjak rem secara perlahan, agar tidak terlalu mengejutkan tapi yakin pada saatnya nanti akan ada masa jeda, hingga kemudian tahu kapan waktunya melaju kembali dengan laju yang nyaman.
Aku gak boleh terlalu eforia, aku ingin menikmati setiap proses dirinya dengan hati yang lapang. Melihatnya dari kejauhan, menggenggamnya tidak terlalu erat, menyambutnya dengan hangat yang tidak dibuat-buat serta memastikan ia tahu bahwa aku baik-baik saja ketika pelukan itu terlepas dan aku menerima 'jalan' yang menjadi pilihannya.
Bukankah ini sebuah langkah yang besar, Buy? Iya. Mari sambut dengan penuh sukacita. Tak kusangka, ia yang dulu berenang dalam rimba amniotik dan sangat melekat padaku, kini telah menggenapi proses belajarku menjadi seorang Ibu yang siap mengantarnya pada gerbang kedewasaan (Insyaa Allah).
"Berjalanlan-lah, Nak. Pastikan langkahmu senantiasa dalam penjagaan-Nya"