Kegiatan pembelajaran bersama selesai sekitar jam 12 siang, biasanya kami langsung mengisi rutinitas seperti mengisi jurnal, membaca artikel, hingga membuat tulisan mandiri yang biasa kami sebut Atomic Essay. Rutinitas tersebut biasa kami isi setelah beres kegiatan sekolah pada saat offline maupun offline. Setelah menyelesaikan itu semua, aku pun bergegas untuk menyiapkan perlengkapan untuk latihan pada sore nanti. Kebiasaan ini sudah aku terapkan cukup lama setelah aku mulai fokus untuk mengikuti berbagai event pertandingan. Seni bela diri Wushu namanya, mungkin aku berbagi cerita sedikit mengapa aku bisa terjun ke dunia olahraga ini.
Sejak kecil Orang tua iseng mengajak aku untuk mengikuti olahraga ini. Tidak menunggu terlalu lama aku pun langsung bergabung dan mulai berlatih. Aku mendapatkan banyak teman baru serta pengalaman baru di sana. Ternyata asyik juga berlatih olahraga ini. Wushu sendiri menjadi salah satu cabang olahraga yang sekarang banyak peminatnya, Usia rentan terbanyak pada anak-anak kecil.
Waktu terus berjalan hingga beberapa bulan pelatih mengajakku untuk mengikuti pertandingan se Kota bandung. Tidak tunggu terlalu lama, aku pun menyepakati ajakan tersebut, itung-itung bisa menambah pengalaman juga. Potensi dalam olahraga ini semakin terlihat, melihat dari sekian banyak atlet aku mendapatkan posisi yang cukup baik untuk pertama kali aku mengikuti pertandingan. Aku menempatkan di posisi ke 4 dari sekian banyaknya atlet di nomor tangan kosong saat itu. Hal yang mengesankan adalah ketika saat berlatih. Banyaknya teman membuat aku semakin berjuang untuk bisa lebih baik dibanding teman-teman yang lain.
Namun kekompakan selalu terjaga dengan baik. Susah payah berjuang keras kita alami bersama dan senang pun kami alami bersama. Kata-kata pelatih yang aku ingat hingga sekarang adalah “Mending nangis saat berjuang keras berlatih, daripada nangis kecewa setelah kamu kalah dalam pertandingan”.