Hirayama adalah seorang lelaki paruh baya yang menjalani hari dengan rutin sederhana sebagai pembersih toilet umum di Tokyo. Tiap pagi dia bangun, menyiram tanaman, mengenakan seragamnya, melepaskan jam tangannya. Dia keluar, tidak mengunci pintu rumahnya, membeli kopi dari vending machine, dan menyetir mobilnya ke toilet pertama yang ia bersihkan.
Film ini lambat dan indah. Plot-nya tidak terlalu kompleks, banyak berfokus pada hal-hal kecil dan indah yang membuat hidup Hirayama bermakna: membantu anak kecil yang tersesat, meminta izin penjaga kuil untuk membawa pulang tunas pohon, bermain tic-tac-toe dengan entah siapa lewat seselip kertas di toilet. Guncangan-guncangan dalam plot juga ditampilkan dengan sekedarnya, sebagai sesuatu yang lewat begitu saja di hari-harinya.
Setelah tiap hari dalam film selesai, kita mengintip ke dalam sekuensi mimpi-mimpi Hirayama: kepingan-kepingan hitam-putih dari buku yang ia baca atau kenangan-kenangan dari dalam benaknya. Sekuensi mimpi yang paling kuingat adalah di mana kita melihat siluet dedaunan di atas halaman buku. Fokus dari frame itu adalah sebuah aksara kanji. Menurut Google Translate, artinya bayangan.
Hal ini menjadi signifikan menurutku karena bayangan seringkali tidak terperhatikan. Kita mengamati apa yang menimbulkan bayangan itu, tapi tidak menggali lebih dalam sesuatu yang bentuknya datar dan monokrom. Padahal bisa jadi dia punya keindahan sendiri.
Dan, dengan dedaunan secara spesifik. Dalam bahasa Jepang, ada sebuah kata untuk mendeskripsikan sinar matahari yang mengintip dari celah dedaunan pohon: komorebi. Ini menunjukkan sebuah ketenangan dan perhatian yang menjadi pusat filosofi Timur, dan juga hal yang membedakan karakter sastra Jepang dengan sastra Inggris, misalnya. Ada perhatian pada keindahan dalam kesederhanaan hal-hal terkecil dalam hidup.
Kurasa itu adalah suatu hal penting yang perlu kubangun. Aku sering lupa untuk melihat hidup sebagai sesuatu yang mengalir, sebagai sesuatu yang diapresiasi untuk detail-detail indahnya. Film Perfect Days adalah salah satu bentuk seni yang mengingatkan kita akan hal itu.
Halo Ara. Kita jadinya punya esai dengan judul yang sama. Narasinya asik, kamu detail banget membaca filem itu - termasuk mencari makna dari aksara jepang yang ditimpa bayangan pohon... Keren!
Semoga filem ini bermanfaat untuk bekal ke penjelajahan... 🌱🤗🙏🏼
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/6457/aes682-komorebi