AES122 - Privilese Untuk Melambat
Ara Djati
Thursday May 14 2026, 3:48 PM
AES122 - Privilese Untuk Melambat

Ketika kami ke tempat Mbak Siska, dia bercerita banyak sekali soal proses di balik Pasar Papringan dan soal kehidupan di kampung. Katanya, yang namanya "slow living" itu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berprivilese. Kenyataannya, di desa, orang-orang sibuk. Mereka bangun subuh dan tidur malam, mengurus keluarga, merawat kebun, menyisihkan waktu untuk hidup sosial, dengan uang yang datang stabil hanya saat masa panen.

Aku berpikir-pikir beberapa hari ini tentang apa artinya slow living bagiku. Apakah memang aku hanya bisa mengenakan gelar itu karena aku berprivilese? Karena aku tidak butuh disibukkan dengan berbagai hal dan urusan? Karena aku tidak tahu rasanya bekerja dan berusaha?

Selama aku di Ngadiprono, aku rasa waktu sungguhan melambat. Jam dua puluh aku sudah mengantuk, siap-siap tidur. Pagi-pagi rasanya sudah melakukan segala hal, saat melirik jam baru pukul sembilan. Padahal, rasa-rasanya di rumah aku selalu terburu-buru. Aku mengakhiri hari jam sepuluh, dan terasanya seperti masih ada begitu banyak yang perlu dikerjakan esok hari. Padahal, di sini pun ada banyak yang perlu dikerjakan. Harus masak, menyapu, cuci baju, mandi, jalan-jalan, berkunjung ke tetangga, riset, menulis. Aku juga menyicil berbagai pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Bandung. Tapi banyak sekali waktuku yang luang.

Aku tidak sepenuhnya setuju dengan tangkapanku atas perkataan Mbak Siska. Slow living bagiku adalah kemampuan untuk hidup di masa kini, tanpa dipenuhi distraksi dan berbagai hal berseliweran di dalam dan luar. Bangun subuh, berkebun, masak, jaga malam, tidur: kalau dilakukan dengan penuh sadar, rasanya beda, tidak se-hectic jika aku melakukan yang sama di Bandung dengan berbagai distraksinya. Jaringan yang jelek dan lampu yang kurang terang memaksaku untuk mencari hal lain untuk dikerjakan. Bagiku, melambat adalah tentang melambatkan pikiran, bukan sebatas pergerakan.

πŸ“· Siput di jalanan tengah sawah ke arah bukit pemakaman dusun sebelah

Andy Sutioso
@kak-andy   20 hours ago
Terima kasih Ara. Ini pengalaman yang sama waktu saya dan RIco berkunjung ke Papringan. Catatannya ada di sini https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/3056/aes054-mari-segera-memperlambat
Terima kasih banyak tangkapan dan pemikirannya. Keren... Sekalian titip salam untuk siputnya ya... πŸ™πŸΌπŸ€—πŸŒ±
Ara Djati
@ara-djati   11 hours ago
Terima kasih kak, akan kubaca, dan akan disampaikan salamnya!
matheusaribowo
@matheusaribowo   18 hours ago
Nikmat banget memang melambat di lereng sindoro. Kalau lihat Pak Singgih juga kesehariannya lambat dan nikmat banget. πŸ‘