Saat mampir ke supermarket untuk membeli titipan Ibu, aku dan adikku menemukan sesuatu yang menarik: kemasan adonan pancake instan. Tanpa berpikir panjang, jiwa randomku mengambil alih dan memutuskan untuk membelinya. Dan, itu kali pertama aku membuat pancake!
Saat adonan dibiarkan selama 15 menit, aku mulai penasaran dan membaca lebih jauh tentang sejarah serta makna di balik hidangan ini. Siapa sangka, pancake bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kehangatan dan kebersamaan yang melintasi zaman.
Pancake sudah ada sejak zaman Romawi kuno. Orang Romawi menyebutnya "Alita Dolcia", yang berarti “makanan manis.” Mereka menikmatinya dengan sirup buah-buahan atau madu. Seiring waktu, pancake menyebar ke berbagai belahan dunia dengan nama dan bentuk yang berbeda.
Di balik kesederhanaannya, pancake menyimpan filosofi yang kaya makna.
Pancake adalah makanan yang sering dinikmati bersama keluarga atau teman. Dari sarapan di pagi hari hingga camilan sore yang menemani obrolan ringan, pancake menghadirkan suasana hangat dan kebersamaan.
Teksturnya yang lembut dan rasa manisnya yang khas membawa banyak orang bernostalgia ke masa kecil saat menikmati pancake buatan ibu atau nenek, ditemani secangkir teh atau susu hangat.
Meskipun terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung, susu, dan telur, pancake memiliki cita rasa yang menggugah. Hidangan ini mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa menghadirkan kebahagiaan.
Pancake bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga bagian dari sejarah, budaya, dan kenangan. Pancake mengajarkan kita untuk menikmati kebahagiaan dalam kesederhanaan dan menghargai momen-momen kecil yang berarti.
Setelah pancake matang dan disajikan. Benar! ada cinta di dalamnya. Kami menikmati dengan penuh kehangatan dengan sedikit madu dan potongan keju yang bercampur menjadi satu.