Apa itu seni?
Sebelum kita bisa menjawab itu, kurasa lebih baik kita menjawab kenapa seni terlebih dahulu. Kenapa kita membuat seni? Apa yang kita harapkan dengan membuatnya?
Ada perbedaan besar antara persepsi kita mengenai dunia dan dunia yang sesungguhnya. Topik ini, tentang subjektivitas, seringkali menjadi ajang perdebatan filsuf Barat.
Karena subjektivitas merupakan bagian dari diri kita, dunia dalam kepala kita dan dunia di luar acap kali tidak selalu selaras. Dunia di dalam kepala kita acap kali abstrak, tidak jelas, tidak konsisten, hipokritikal. Sementara itu, dunia di luar sana merupakan hasil logis dari rentetan sebab-akibat jutaan faktor, terakumulasi untuk menghasilkan hari ini. Karena keduanya amat berbeda, keduanya sulit untuk hidup berdampingan.
Jadi, kurasa seni adalah wujud penggabungan kedua dunia itu. Seni adalah benda nyata; setidaknya lebih nyata dibanding sekedar pikiran kita, karena mereka memiliki wujud di dunia nyata. Meski begitu, seni bukan sesuatu yang jelas; mereka tidak memiliki fungsi dan tujuan nyata. Tujuan mereka mengawang-awang di pikiran sang pembuat dan penikmat karya tersebut.
Seni adalah cara mengekspresikan diri. Lewat seni, kita mengeluarkan pikiran-pikiran kita yang terlalu liar untuk dikekang belenggu kata. Lewat seni, kita membiarkan mimpi dan harapan kita untuk hidup bersama kita.
Seni adalah pikiran yang diberikan nyawa.