AES 130 When Life Is Good, Write! When Life Sucks, Write More!
joefelus
Thursday September 30 2021, 3:00 AM
AES 130 When Life Is Good, Write! When Life Sucks, Write More!

Di esai yang ke 130 ini secara spesial saya ingin mengulas tentang menulis. Saya pernah ngobrol di AES bahwa menulis itu mempunyai efek terapi. Nah kali ini juga saya masih mau ngobrol tentang menulis. Idenya saya peroleh ketika semalam nonton salah satu episode NCIS. Salah seorang street artis berkata, When life is good, paint, but when life sucks, paint more! Nah saya akan adaptasi ini dengan berkata, When life is good, write, and when life sucks, write more!

Hidup tidak selalu mulus dan tidak seperti garis lurus. Sering kali kita mengalami naik turun, berkelok kelok, berputar-putar dan kusut. Kita banyak tertawa, bersenang-senang, kadang berkeringat kadang bermalas-malasan. Hidup penuh dengan cerita, baik yang sedih, menyenangkan, membosankan, menjengelkan, dan banyak lagi. Hidup tidak monoton tapi penuh dengan dinamika.

Kita akan sangat mudah bercerita ketika dalam keadaan senang. Yang sederhana saja, ketika kita pergi liburan, kita bisa panjang lebar bercerita tentang perjalanan kita. Atau misalnya saya sekarang sedang senang karena berada di musim gugur, musim favorit saya. Saya bisa panjang lebar bercerita soal daun-daun yang berubah warna, lalu menjadi coklat dan kering dan jatuh ke tanah lalu oleh anak-anak kecil dikumpulkan lalu bermain dengan daun bahkan anjing-anjing yang lucu senang sekali terjun dan masuk ke dalam gundukan daun. Mudah sekali! Tapi coba jika kita sedang mengalami masa sulit, apa yang mau kita ceritakan? ngobrol saja dengan orang lain seringkali kita sulit untuk terbuka!

Menurut para ahli, ketika kita sedang mengalami kondisi yang tidak menyenangkan, kita dianjurkan untuk mencari sesuatu yang membuat kita lebih relax, lebih tenang. Banyak yang kita bisa lakukan, jika segelas wine bisa menenangkan, kenapa tidak? atau Jogging, yoga. Meditasi kalau memang sering dilakukan akan menjadi sebuah kegiatan yang menenangkan. Oh ya tentu saja satu lagi, menulis!

Menulis itu bisa menyerap semua emosi dan perasaan! Kita tidak akan bisa menulis jika pikiran kita penuh dengan lusinan pikiran dan keruwetan, dengan menulis kita menarik pikiran kita ke sebuah garis tunggal yang memaksa kita untuk fokus pada satu pikiran dan melahirkan sebuah tulisan. Sesudah selesai, seringkali kita akan berkata pada diri sendiri bahwa ternyata apa yang kita alami itu tidak buruk-buruk amat, bahkan kita masih mampu menanggulanginya.

Tulislah sesuatu dengan penuh perasaan dan itu akan menghasilkan sebuah tulisan yang sangat powerful! Tulisan bisa kita gunakan sebagai tempat melepaskan emosi dan membawa kita melewati saat-saat yang sulit. Kalau berani dan memang nyaman membagikan dengan orang lain, tulisan kita juga bisa sebagai bahan untuk sharing dan seringkali kita bisa memperoleh masukan mungkin dari orang lain yang pernah mengalaminya. Kenapa tidak?

Menulis secara tidak langsung dapat menyusun pikiran-pikiran kita menjadi begitu teratur sebab dalam kondisi semrawut jangan harap kita bisa melahirkan sebuah tulisan. Seperti saya katakan barusan, dengan menulis kita dipaksa untuk fokus pada satu pikiran yang kita ingin curahkan, jadi secara simultan pikiran kita dibenahi, diatur dan disusun dengan rapih; tidak lagi simpang siur dan semrawut.

Saya mengalami beberapa masa yang sangat sulit hingga sulit bernapas. Ketika Kano berusia 2 bulan, dia didiagnosa mempiliki kelainan jantung. Kano memiliki lebih dari 1 otot yang berfungsi menjadi motor penggerak jantung sehingga detaknya sangat kacau. Kadang cepat, kadang sangat lambat bahkan kata dokter jantungnya berhenti selama sepersekian detik. Ada kalanya begitu cepat hingga berdenyut hampir 300x dalam 1 menit, bandingkan dengan orang berumur 20 tahun yang sedang sprint denyut maksimalnya 200/menit! Semakin lanjut usia semakin menurun, jika seseorang berusia 50 tahun berlari dengan denyut 200 bpm, dia kemungkinan besar akan semaput! Jika terjadi pada bayi berumur 2 bulan, jantungnya akan kelelahan dan berhenti berfungsi!

Itu masa paling mencekam dalam hidup saya. Hanya mampu bercucuran air mata ketika bayi mungil diikat pada sebuah alat semacam sanggurdi, lalu penuh ditempeli kabel-kabel. Setega dan setegar apapun melihat buah cinta sendiri melewati keadaan itu akan luluh. Lutut akan lemas dan berharap saya bisa bertukar tempat! Semua itu terjadi di rantau berjauhan dengan sanak saudara serta keluarga. Hanya berdua! Saya sulit bernapas. Sedikit demi sedikit emosi dan kekhawatiran saya diurai. Alhamdulillah masa itu lewat, sekarang anaknya sudah lebih tinggi dan lebih besar dari bapaknya, dan ketika direnungkan kembali, justru masa itu yang menurut saya adalah masa ketika membangun kedekatan yang kokoh dalam keluarga. Pada saat itu jurnal saya penuh dengan coretan-coretan. Pada saat itu banyak ungkapan syukur yang tergores dalam bentuk untaian kata-kata.

Di lain waktu saya pernah berada di kondisi yang sangat terpuruk, parah! Ini adalah saat yang baik untuk ber-refleksi, melihat segala kemungkinan, menerima kenyataan dan berjuang all out. Tidak ada rasa malu karena untuk apa? kalau sudah berada di dasar, saya tidak akan bisa jatuh lagi, tidak mungkin lebih terpuruk lagi. Ya all out, tidak perlu gengsi lagi. Menulis membantu melakukan refleksi! Menulis membantu mengurai keruwetan karena sekali lagi pikiran kita dibenahi dan ditata sehingga saya bisa melihat lebih jelas!

Jadi sekali lagi, jika sedang bahagia, tulislah itu agar kita selalu dapat mengingat dan selalu bersyukur atas anugerah yang diberikan bahwa kita dapat merasakan kebahagiaan. Ketika kita dirundung kesusahan dan kemalangan, tulis lebih banyak karena pada saat itu kita butuh memfokuskan pikiran kita ke hal-hal yang positif, kita butuh melepaskan kesedihan dan emosi. Pada saat itu kita bisa melihat bahwa banyak tulisan yang luar biasa dapat tercipta!***