AES 352 Bus Kota
joefelus
Tuesday May 10 2022, 7:55 AM
AES 352 Bus Kota

Pulang kerja saya memutuskan untuk naik bus! Sudah sekian tahun saya tidak lagi menggunakan bus kota, apalagi selama masa pandemi. Saya tidak berani berbagi udara di ruangan sempit dengan orang-orang yang tidak saya kenal, jadi saya menghindar naik bus. Saya memang lebih suka berjalan kaki kemana-mana karena jauh lebih sehat dan sambil jalan saya bisa memanfaatkan waktu untuk merenung, berpikir atau hanya sekedar melamun. Jauh lebih asyik dari pada naik bis kota yang hanya beberapa menit sementara jalan kaki membutuhkan jauh lebih banyak waktu, sehingga waktu merenungnya pun lebih banyak.

Tujuan saya sepulang kerja adalah ke supermarket! Kano minta dibuatkan garlic chicken. Entah mengapa saya tiba-tiba ingin bepergian dengan bus. Tahun-tahun awal ketika saya pindah ke sini, saya menggunakan bus kota kemana-mana. Setiap bulan saya berlangganan bus pass, baru berhenti berlangganan ketika diangkat menjadi pegawai negeri. Pegawai universitas di kota saya adalah pegawai negeri dan karena seluruh operasi bus kota dibiayai oleh universitas, maka semua karyawan dan mahasiswa bisa naik bus tanpa harus membayar.

Duduk di dalam bus membuat saya begitu terkenang dengan masa-masa awal saya di sini. Kano, karena masih dibawah 17 tahun tidak perlu membayar ongkos, yang harus dia lakukan adalah membuat kartu identitas yang menunjukkan bahwa dia di bawah umur. Begitu naik bus dia hanya menunjukkan kartu itu dan sopir akan mempersilakan dia masuk, sementara saya harus menempelkan kartu karyawan di mesin sensor. Kartu karyawan atau kartu mahasiswa berlaku sebagai bus pass.


Penggunaan masker di dalam bus sekarang sudah tidak diwajibkan, tapi saya masih belum merasa nyaman berbagi udara bersama sekian banyak orang tidak dikenal dalam satu bus, jadi saya tetap memakai masker dan tetap menjaga jarak dengan penumpang lainnya. Sambil duduk saya memperhatikan suasana di dalam bus dan mulai menyadari bahwa sesudah sekian tahun berlalu hidup saya pun banyak berubah. Dari keterbatasan gerak karena tergantung pada bus kota dengan jadwal dan rute yang berbeda-beda, hingga sekarang kehidupan yg lebih mobile. Saya dulu harus betul-betul merencanakan dan menghitung waktu jika akan bepergian, terutama jika harus berganti-ganti bus, salah perhitungan saya bisa tertinggal. Naik bus memang sangat nyaman dan jadwal sangat bisa diandalkan, tapi karena bus memiliki rute, maka tetap memakan waktu jika ingin bepergian, berbeda dengan berkendaraan sendiri yang tidak perlu berputar-putar seperti bus.

Life story itu sangat berarti, minimal untuk saya. Banyak hal yang saya pikirkan ketika duduk di dalam bus dalam perjalanan menuju banyak tempat. Mungkin ini yang membuat bus kota begitu berarti. Dulu ketika di pulau di tengah samudra pasifik, selama 10 tahun saya kemana-mana naik bus kota. Bahkan ketika harus membawa Kano 3 kali seminggu ke rumah sakit. Itu perjalanan setidak-tidaknya menghabiskan setengah hari pulang pergi. Kalau dipikir-pikir entah berapa banyak waktu yang sudah saya habiskan di dalam bus. Mungkin saja banyak keputusan sudah saya ambil berdasarkan banyak pemikiran yang saya lakukan di dalam angkutan publik ini.

Seringkali mengunjungi kembali masa lalu atau istilah kerennya revisiting the past itu katanya memiliki efek terapi. Dengan mengingat masa lalu terkadang kita dapat merasakan bahwa masa kini jauh lebih baik. Well, tidak selalu begitu sih, banyak juga kemungkinan kondisi itu bisa jadi sebaliknya, semuanya masih "tergantung" pada kondisi masing-masing. Dalam kasus saya, ketika duduk di dalam bus saat ini, saya merasakan bahwa masa kini sepertinya jauh lebih baik walau saya juga sebetulnya mengakui pada masa saya masih menggunakan bus kota juga banyak keseruannya. Saya ingat bermain pokemon go duduk bersebelahan dengan Kano yang saat itu masih SD, kami sama-sama berusaha berburu pokemon sambil tertawa-tawa. Atau ketika pergi jauh ke arah utara hanya untuk bisa membeli sepeda bekas di sebuah koperasi. Di sana kami harus bekerja beberapa jam mengganti bagian-bagian sepeda yang sudah usang dengan yang baru dan itu harus dikerjakan sendiri didampingi salah seorang karyawan koperasi itu. Karena terlalu jauh untuk dinaiki, maka sepeda kami bawa naik bus di taruh di rak sepeda dibagian depan bus. Sayang sekali sepeda itu kemudian dicuri orang beberapa waktu kemudian, persis di depan hidung Kano yang sedang bermain dengan teman-teman sekompleks.

Dulu saya naik bus juga ke tempat kerja. Pagi sekali sudah bangun, bersiap dan kemudian menunggu bus pertama yang beroperasi untuk ke tempat kerja. Perjalanan naik bus paling tidak lebih dari 5 menit. Waktu itu saya malah kenal banyak sopir bus karena selalu memakai jasa mereka setiap hari dan hapal jadwal dan rute bus kota ke berbagai tempat. Saya tidak ingat kapan saya berhenti naik bus dan lebih memilih berjalan kaki, sepertinya ketika berganti pekerjaan karena pekerjaan yang sekarang menuntut lebih banyak duduk di depan komputer jadi saya harus mengimbangi dengan banyak bergerak, salah satunya berjalan kaki. Kebiasaan saya melakukan 10,000 langkah setiap hari sudah berjalan selama lebih dari 3 tahun! Baru sadar sudah lama juga saya rajin berjalan kaki.

Yang saya pelajari semenjak saya mengetahui bahwa saya mengidap Hashimoto Disease yaitu saya menjadi seorang yang sangat sensitif. Segala sesuatu bisa membuat saya begitu emosional. Melihat kelinci liar yang sedang makan rumput dekat tempat saya memarkir mobil saja sudah membuat saya begitu tersentuh. Ya, mood swing adalah makanan saya sehari-hari. Ketika naik bus kota sesudah sekian tahun tidak saya lakukan seperti semacam trigger yang membuat mood saya tergugah dan naik ke permukaan. Bayangkan saja bus kota sudah menjadi bagian dari fragmen-fragmen kehidupan yang sudah saya jalani sejak jaman mahasiswa naik Damri (yang tidak saya ceritakan karena takut terlalu panjang hahaha) hingga bus kota di tempat-tempat yang pernah saya kunjungi seperti di Las Vegas, Honolulu, Washington DC, Chicago, New York, Boston dan banyak lagi. Masing-masing mempunyai cerita-cerita unik tersendiri yang secara langsung mengatakan bahwa hidup ini penuh dengan pengalaman-pengalaman seru.***