Saya terpicu untuk menyumbang pikiran setelah membaca tulisan @kak-andy dengan judul Agama Terbaik. Sebetulnya ini bukan topik favorit yang ingin saya obrolkan, bukan karena ini masalah sensitif atau apa, tapi saya memang tidak suka karena diskusi tentang ini tidak akan pernah berakhir sebab terkait dengan sentimen pribadi. Bagi saya agama adalah masalah pribadi, sama seperti warna favorit. Kalau saya suka warna hitam, maka tidak berarti warna merah itu jelek, dan tidak berarti saya membenci warna coklat atau biru. Nah dalam debat semacam ini saya usahakan untuk selalu menjauh, sebab saya tidak suka ikut campur masalah orang lain, sekali lagi, bagi saya agama adalah urusan pribadi. Saya sama sekali tidak berusaha mengecilkan peran agama atau pengertian agama, yang saya tulis hanya semata-mata pendapat pribadi yang berkaitan dengan segala pengalaman yang telah saya lalui selama ini.
Menurut para ahli, bukan ahli agama loh, salah satu alasan mengapa orang-orang tertarik pada agama adalah karena ritual nya; seperti misalnya dalam ritual agama kita harus berdiri, duduk, berlutut secara bersama-sama, menyenandungkan atau mendaraskan ayat-ayat kitab suci, mendengarkan sesuatu yang menyentuh emosi dalam khotbah, dan sebagainya. Kegiatan semacam ini menstimuli sistem endorphine dalam otak. Ini adalah mekanisme yang mendukung relasi sosial yang erat (social bonding) pada semua jenis primata, termasuk manusia. Seperti opium atau candu, endorphine memproduksi kebahagiaan, ekstasi, kehangatan dan ketenangan.
Nah sekarang, kalau saya menjelaskan semacam teori di atas yang diungkapkan oleh para ahli, tentu saja saya bisa runyam. Sekali lagi, urusan agama itu sangat sensitif dan selalu erat kaitannya dengan sentimen pribadi. Kalau saya bilang agama itu candu, saya yakin langsung dirajam dan dianggap penghasut atau penghina, blasphemy. Mangkanya saya menghindar sebab sejak ratusan tahun yang lalu pertentangan antar agama dan pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan atau sain itu tidak pernah habis. Silahkan baca sejarah berapa banyak ilmuwan dan kaum cendikia yang dikucilkan oleh salah satu agama bahkan ada yang dihukum mati karena dianggap menghina dan mengancam.
Yang saya percayai, agama dapat memberikan akses langsung pada cara hidup yang erat dengan emosi dan sentimen yang ilmu pengetahuan tidak dapat tawarkan. Memang benar ilmu dapat menyajikan perasaan kagum terhadap keindahan alam, tapi manusia membutuhkan lebih dari itu yang sampai sekarang ilmu pengetahuan belum mampu memberikan jawaban. Banyak elemen dan peristiwa kehidupan yang belum mampu dijamah oleh ilmu.
Terus terang saya lelah dengan pertentangan, pengkotak-kotakan, dan banyak masalah yang terjadi di tengah para penganut agama. Kekisruhan semacam ini sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu dan hingga sekarang tidak pernah ada habis-habisnya. Kalau dipikir-pikir untuk apa?
Sekarang bayangkan begini, jika saya ingin pergi dari Bandung ke Surabaya, saya bisa memilih antara naik kereta, pesawat, bus malam dan cara lainnya. Apakah penumpang bus malam Lorena akan berkelahi dengan bus malam Kramatdjati karena masing-masing menganggap bus mereka lebih baik? Atau para penumpang Lion Air mengejek para penumpang bus malam karena dianggap mereka adalah orang-orang kelas bawah dan tidak mampu membeli tiket pesawat terbang? Atau yang naik kereta api mengejek para penumpang bus malam karena mereka bilang bisa lebih cepat sampai di Surabaya? Nah, tidak bukan? Semua tujuannya sama ke Surabaya sedangkan urusan pemilihan alat transportasi tergantung pada preferensi masing-masing. Mungkin ada yang hanya memiliki kemampuan membeli tiket bus yang dianggap paling murah, atau ada yang lebih suka naik kereta karena tidak harus selalu duduk sepanjang malam, atau mungkin memiliki waktu terbatas sehingga harus naik pesawat. Nah semua itu tidak dapat diperdebatkan karena walau tujuannya sama, tapi caranya berbeda. Sama saja dengan memperdebatkan mana yang lebih enak apel atau mangga, walau dua-duanya buah tapi masing-masing memiliki keunikan sendiri-sendiri. Memang metafor yang saya pilih tidak tepat dan jauh kesamaanya, tapi pada intinya perbedaan semacam ini tidak perlu diperdebatkan apalagi dalam tulisan kak Andy, agama seharusnya bisa membantu manusia menjadi lebih welas asih, lebih adil, lebih menyayangi, dan hal-hal positif lainnya. Soal cara, ya pilih saja masing-masing mana yang cocok. Yang cocok untuk saya belum tentu cocok untuk orang lain.
Foto credit: en.wikipedia.org