AES 727 Escape
joefelus
Sunday May 21 2023, 10:41 AM
AES 727 Escape

Dapur berasap pekat. Tiket pesanan berjejer dihadapan saya. Sambil menunggu makanan panas siap tersaji saya menyiapkan salad pesanan di atas piring-piring sambil juga menyiapkan piring-piring untuk makanan panas yang masih sedang di masak di atas kompor, grill dan juga flat top. Di fryer terlihat minyak yang bergolak menggoreng french fries dan makanan pembuka seperti calamari, fried oyster dan sebagainya. Hanya ada seorang tukang masak ditemani saya. Pada saat yang sama waiter berteriak menyebutkan pesanan minuman di sisi yang lain. Malam itu bartender saya juga tidak masuk. saya harus berlari ke bar dan meracik minuman yang dipesan.

Suasana begitu kacau balau karena kekurangan tenaga. Hanya ada seorang tukang masak, tidak ada bartender dan lebih parah lagi tukang cuci piring juga tidak masuk. Saya harus lari kesana kemari. Ketika kesibukan di dapur mereda dan tidak ada pesanan minuman saya lari ke belakang dan berusaha mencuci piring secepat-cepatnya. Untungnya mesin cuci piring saya lumayan besar. Semua piring kotor saya semprot, lalu saya taruh berjejer rapih di rak, lalu saya dorong ke alat pencuci kemudian pintu saya tutup dan secaya otomatis mencuci, sementara saya mulai mengisi rak berikutnya dengan piring-piring kotor yang sudah saya semprot. Begitu seterusnya hingga waiter datang ke belakang dan memberi tahu dapur butuh bantuan.

Saya mencuci tangan, meninggalkan tempat cuci, memakai apron dan lari ke dpur sibuk menyiapkan semua pesanan sambil sekali-kali diselingi dengan lari ke bar menyiapkan minuman. Untungnya shift malam tidak berlangsung terlalu lama. Lewat jam makan malam, kesibukan mulai berkurang, tukang masak bisa beristirahat dan saya kembali sibuk mencuci piring yang sudah menumpuk karena selama jam sibuk makan malam terbengkalai sebab saya harus sibuk membantu di dapur dan Bar. Itu menjadi malam saya yang sangat melelahkan.

Cerita di atas benar-benar terjadi bertahun-tahun yang lalu. Bukan malam yang menyenangkan tapi bagi saya sulit untuk dilupakan. Pekerjaan yang seringkali menyenangkan tapi memang bergerak di bisnis food dan beverages penuh dengan stress. Itu baru tekanan dari kegiatan operasional, belum lagi masalah man power. Para pekerja yang bandel, sering bolos, ada yang terlibat narkoba belum yang bertengkar bahkan ada yang berkelahi dimana yang satu membawa sebilah pisau dapur besar mengejar yang lain. Belum lagi urusan customer yang protes, ada yang tidak mau bayar hingga saya harus panggil security dan polisi hingga yang bersangkutan diborgol dan ditangkap polisi.

Banyak juga waktu-waktu yang menyenangkan bekerja seperti ini. Kesenangan saya menyiapkan makanan dan meracik minuman menjadi kesenangan yang sulit diungkapkan. Kelelahan terbayar ketika melihat semua piring kembali dengan bersih tanpa makanan tersisa. Di situ saya tahu bahwa usaha kami menyajikan makanan dihargai dan dinikmati para pelanggan. Hanya saja sesudah sekian tahun bekercimpung dalam situasi semacam itu saya mulai merasa terperangkap dan sulit bernapas. Sesudah 10 tahun berlalu saya akhirnya berhenti dan lari, escape!

Sangat sulit untuk benar-benar jujur pada diri sendiri dalam kondisi semacam itu. Mencintai pekerjaan sekaligus juga membencinya bukan merupakan sesuatu yang mudah untuk dicerna begitu saja. Seringkali saya tidak suka menelusurinya tapi pada saat yang sama saya begitu ingin mengulangnya kembali karena di situ saya juga menikmati sebuah kebahagiaan dan kepuasan. Jujur saja, pada saat-saat akhir saya begitu senang bisa lari dan kembali ke Indonesia.

Siklus serupa terjadi berulang-ulang kali dalam hidup. Ketika sebuah tantangan baru muncul, kita menjadi begitu bersemangat dan berusaha membuktikan bahwa tantangan itu merupakan sebuah hal yang baik, sebagai salah satu usaha mengaktualisasikan diri, tapi begitu satu demi satu tantangan terlewati dan kemudian semuanya berubah menjadi stagnan, kita mulai merasa jenuh, bosan dan terperangkap. Pada saat demikian kita mempunyai kecenderungan untuk melarikn diri. Motivasi kita luntur.

Ketika motivasi melemah dan kita merasa jenuh serta lelah, itu menjadi salah satu alasan mengapa kita memilih melarikan diri. Untuk hal-hal sederhana kita berusaha mengalihkan perhatian pada TV, bacaan, atau membuka telepon genggam bermain game atau Facebook, intagram maupun tiktok. Kita pergi makan, jogging, berolahraga, belanja lalu kembali ke kenyataan hidup, kembali bekerja, kembali ke relasi keluarga yang mungkin sedang kurang baik. Hanya saja perlu diingat bahwa ketika kita terlalu cepat melarikan diri, Kita kehilangan kesempatan untuk menemukan motivasi yang melatarbelakangi kebanggaan dan aktualisasi diri yang kita junjung tinggi. Kita kehilagan itu karena menyerah.

Apakah berusaha menemukan kembali motivasi dapat menyelesaikan masalah kita agar tidak melarikan diri? Mungkin saja tidak. Yang kita butuhkan adalah berusaha memperlambat diri agar tidak tergesa-gesa mengambil keputusan serta berusaha menemukan motivasi-motivasi itu. Lalu kita dapat mencernanya agar terus berupaya menemukan tujuan hidup. Ini yang sedang kembali saya lakukan karena sepertinya lagi-lagi untuk kesekian kalinya saya mengalami hal serupa.

Saya ingat ungkapan dari Robert McKee: “We do not wish to escape life but to find life, to use our minds in fresh, experimental ways, to flex our emotions, to enjoy, to learn, to add depth to our days

Foto Credit: roomescapedc.com