Entah kapan saya mulai berpikir tentang hidup. Yang saya rasakan akhir-akhir ini pikiran semacam itu selalu membuat saya tertarik. Saya mulai kembali memikirkan apa saja yang sudah dilalui, pengalaman-pengalaman yang pernah dihadapi, hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang menyulitkan, lalu mulai berpikir berapa lama lagi hal-hal seacam ini akan dapat saya rasakan.
Entah kapan saya juga mulai memikirkan berapa angka tahun yang tersisa dalm hidup saya. Tapi jangan berburuk sangka terlebih dahulu, saya mulai memikirkan itu karena pengalaman yang sudah saya hadapi. Mungkin karena usia juga sebab pada usia seperti ini saya mulai kehilangan teman dan sahabat satu demi satu. Itu adalah fakta kehidupan. Semua memang sudah tertulis seperti itu sejak awal mula kehidupan terjadi.
Apa yang kita inginkan dari kehidupan? Itu sebuah pertanyaan sederhana yang jutaan, milyaran orang pertanyakan setiap hari. Begitu banyak jawaban yang bisa kita sampaikan tapi kadang kebingungan yang menjadi akhir dari pilihan yang tidak terbatas itu. Seringkali yang saya inginkan adalah sebuah pagi yang sempurna. Berjalan kaki menuju kantor sambil merenung dan mendengarkan musik yang saya sukai, tanpa ada rasa khawatir akan apapun. Itu akan membuat hidup saya begitu berarti.
Kita memulai hidup dengan ketidakpedulian, sepertinya semua begitu. Kita memulai hari demi hari begitu saja, tanpa tujuan yang jelas dan tidak tahu apa-apa. Dengan berjalannya waktu, mata kita mulai sedikit demi sedikit terbuka, kita mulai menyadari bahwa hidup mempunyai tujuan. Kita memang memulai tanpa kepedulian tapi tidak dapat selama nya begitu karena jika kita tidak belajar, maka kita tidak akan pernah pergi kemana-mana. Belajar membuka mata kita, dan ketika mata terbuka, maka kita mulai dapat melihat kehidupan, apapun tujuannya.
Ketika mencapai usia seperti saya atau sekitar itu (hahaha) kita akan mulai berpikir berapa lama lagi waktu hidup yang tersisa. Mau tidak mau kita atau mungkin lebih tepatnya saya, mulai berpikir akan apa saja yang belum saya lakukan, apa saja yang masih saya inginkan sebelum mencapai garis akhir.
Oh, tentu saja saya masih memiliki banyak mimpi yang belum terlaksana. Dan saya akui banyak mimpi-mimpi itu terlalu jauh di luar jangkauan. Tapi saya punya imajinasi, dan itu bagi saya sudah jauh lebih dari cukup. Ada seseorang yang pernah berkata, lebih dari satu kali,"Never stops looking for what's not there." Nah, itu adalah pekerjaan imajinasi. Setiap orang memiliki keunikan tersendiri dalam berimajinasi. Dan saya merasa memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal ini, oleh sebab itu saya katakan barusan tentang apa keinginan saya dalam hidup, yaitu pagi yang sempurna ketika saya dapat berjalan kaki dan bermain dengan imajinasi yang tidak terbatas.
Pada usia tertentu kita memiliki kecenderungan untuk berusaha melihat beberapa puncak bukit yang tersisa yang ingin kita daki. Ibaratny begitu. Semacam pesta atau perjamuan terakhir sebelum kemudian kita berhenti mencari. Puncak-puncak itu semakin lama semakin berkurang dengan bertambahnya usia, semakin banyak pula yang sudah pernah kita daki dan semakin sedikit yang tersisa. Wajar juga jika pada saatnya kita harus bisa menerima bahwa sisa-sisa puncak bukit itu sudah terlalu berat untuk kita daki. Nah di sini imajinasi mulai berperan. Kenapa tidak?
Akhir-akhir ini juga saya banyak mengumpulkan buku-buku. Saya memang tetap mempertahankan kebiasaan untuk membeli buku ketika mengunjungi tempat baru. Apakah langsung dibaca dan diselesaikan? Tidak. Saya tidak tergesa-gesa. Saya masih banyak waktu untuk itu, yaitu nanti ketika satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah berimajinasi. Ya, saya akan terus berusaha untuk tidak berhenti mencari sesuatu yang tidak ada. Itu adalah salah satu jalan untuk terus membuka pintu petualangan, apalagi ketika secara fisik sudah tidak berdaya. Satu harapan saya adalah saya mencapai garis finish ketika saya tidak mampu lagi berimajinasi. Itu adalah bagian akhir dari hidup.
Foto credit: kqed.org