Saya akan mulai obrolan hari ini dengan sebuah statement. Segala sesuatu ada batasnya. Segala sesuatu, tanpa ada perkecualian. Seperti misalnya bintang, walau bintang hidup selama milyaran tahun, misalnya, ada akhirnya. Jika tidak demikian maka kita tidak akan pernah mengenal supernova. Ada alfa ada omega, ada awal dan ada akhir. Itu adalah proses yang alami, demikian juga hidup. Hidup dimulai dengan sebuah kelahiran lalu diakhiri dengan berpulangnya ke alam baka. Kejadian-kejadian sepanjang hidup juga semua ada awalnya kemudian ada saatnya berakhir. Orang sakit, kemudian berakhir dengan kesembuhan. Tidur diakhiri dengan bangun. Hidup adalah sesuatu yang finite, yang memiliki batas.
Kejadian-kejadian yang saya ungkapkan di atas kita alami berulang-ulang. Ya begitu seterusnya sehingga saatnya kita pindah dari kehidupan. Hari ini saya ingin ngobrol soal ini karena mengalami hal yang cukup penting. Kalau ingat hampir 6 bulan lalu saya mulai menghadapi masalah karir, hari ini sepertinya ditandai dengan awal berakhirnya masa itu. Dan dengan senang hati saya bisa mengatakan bahwa berakhir dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Hari ini saya mendapat soft offer poisisi yang baru, dengan titel yang baru dan dengan tawaran yang jauh lebih baik. Melegakan, menyenangkan dan membuat saya mampu melihat ke depan dengan lebih baik.
Segala sesuatu memang ada akhirnya, tapi harus diingat juga bahwa akhir dari sesuatu adalah permulaan dari hal yang baru. Ketika malam berakhir, maka seuatu yang baru dimulai, begitu bukan? Kita memulai hari yang baru sesudah yang lama berakhir. Lalu yang kita jalani hari ini akan kemudian berakhir. Begitu seterusnya. Mangkanya banyak istilah yang digunakan oleh banyak orang seperti misalnya: Badai pasti berlalu. Tapi juga harus diingat, selama badai apa yang harus kita lakukan? Lalu lahirlah ungkapan seperti yang diungkapkan oleh Vivian Greene, yang sangat saya sukai, yaitu: Life Isn't About Waiting for The Storm to Pass, its About Learning How to Dance in The rain. Jadi pada intinya kita harus mengerti betul bahwa segala sesuatu itu ada akhirnya, tapi selama menunggu sesuatu itu berakhir, alangkah baiknya jika kita memanfaatkan saat yang ada dengan melakukan sesuatu yang berharga.
Persepsi juga sangat penting dalam melihat segala sesuatu. Confucius pernah berkata demikian: “Everything has its beauty, but not everyone sees it. Everything also has its end, but not everyone accepts it.” Kita cenderung terperangkap dengan keinginan kita sendiri, jika sesuatu terjadi dan tidak sesuai dengan keinginan maka kita akan berusaha menampiknya. Sesuatu yang baik dan indah jika tidak sesuai dengan yang kita sukai, maka kita tidak akan mampu mengapresiasinya, kita tidak akan mampu melihat keindahannya. Demikian juga dengan berbagai kejadian dalam hidup, segala sesuatu akan berakhir tapi pada saat itu banyak diantara kita tidak mau menerimanya. Karena apa? Karena kepentingan pribadi kita terusik. Jika sedang liburan dan menikmati banyak kesenangan, kita akan bersedih ketika semua itu berakhir? Begitu bukan? Itu hal yang wajar dan normal. Siapa yang tidak menyukai kesenangan?
Satu hal yang selalu saya pelajari dari berbagai peristiwa hidup yang pernah saya alami adalah bahwa hidup itu sangat menarik dan penuh dinamika. Perjalaan hidup tidak pernah selalu sama, kadang terjal kadang mudah, indah dan menyenangkan. Kadang bersusah hati, dan tidak jarang kita penuh dengan kebahagiaan. Saya banyak mengalami badai, dan seperti kata Vivian di atas, walau saya masih belum pandai menari, tapi saya belajar melakukan sesuatu yang bermanfaat pada saat hujan, dan berusaha tidak hanya menunggu hingga badai berakhir. Di situ kita benar-benar menjalani dan menikmati hidup.
Foto credit: theproductivewoman.com