Hari ini banyak tulisan dari teman-teman yang bergabung dengan Atomic Essay Smipa yang saya ikuti. Beberapa diantara mereka sempat mencolek saya dan bertanya bagaimana rasanya menjalani 3 tahun terakhir dengan menulis setiap hari. Saya tidak bisa langsung menjawab karena terus terang saya sama sekali tidak pernah memikirkan itu. Jadi saya bilang bahwa jawabannya akan saya tulis dalam bentuk esai yang sedang saya tulis ini.
Saya beberapa kali menulis bahwa manusia menjalani hidup dengan tergesa-gesa, seolah-olah waktu tidak pernah cukup. Manusia selalu berusaha mengejar sesuatu dan kita selalu terpaku pada tujuan-tujuan yang kita canangkan, yang pada akhirnya kita sendiri tidak tahu mengapa mengejar itu. Saya selalu mengatakan dengan istilah mengejar kesia-siaan, karena sesudah kita memperolehnya ternyata bukan itu yang membuat kita bahagia. Saya ambil contoh misalnya gadget. Saya bekerja keras agar memperoleh penghasilan yang baik, lalu dari hasil itu saya tabung sebagian hingga uang itu cukup untuk membeli gadget yang kita inginkan. Kita ingin karena benda itu keren dan akan membuat saya bahagia. Saya akhirnya mampu membelinya, hari pertama saya pindahkan segala sesuatu dari gadget lama ke yang baru, saya mainkan hingga menghabiskan banyak waktu untuk itu. Hari kedua, ketiga, keempat dan seterusnya saya perlihatkan ke banyak orang, merasa senang dan keren, lalu beberapa waktu kemudian jadi biasa saja. Hanya kesenangan semu, lalu mengejar yang lain lagi. Begitu seterusnya, tidak ada habis-habisnya.
Tadi pagi saya ngobrol dengan beberapa orang teman dan boss saya tentang produk Apple yang baru, Apple Vision Pro. Kami ngobrol panjang lebar tentang kehebatannya, bagaimana alat canggih ini memiliki fitur yang berbagai macam. Pokoknya luar biasa. Lalu ada yang bertanya," How that machine can fit in your life?" Sampai disitu kami mulai bungkam dan termenung. Ini pertanyaan yang sangat penting. Lalu saya tanya," How much electronic trash you have in your house?" Nah boss saya menjawab bahwa dia punya banyak sekali. HP yang lama dia tetap simpan ketika membeli yang baru karena dia takut walaupun sudah di factory reset masih ada residu tentang data dia yang bisa di-retrieved oleh orang lain. Dia punya lemari yang penuh dengan benda-benda elektronik, bahkan dia punya ipad baru yang sampai sekarang masih belum dibuka, masih terbungkus dalam kotaknya.
Kita berusaha memiliki banyak hal, berusaha mengejar banyak tujuan dengan harapan bahwa kita akan merasakan suatu kebahagiaan. Tapi semuanya itu semu, ada masa kadaluarsanya. Bukan kebahagiaan sejati. Dalam usaha itu semua kita banyak membuang-buang waktu.
Saya pernah bertanya pada seseorang sahabat yang juga pernah tinggal di rantau, di Amerika. "Bagaimana dulu waktu di Amerika, pengalaman seru apa saja yang bisa diingat?" Tahu jawabnya apa? Ini jawabnya. "Boro-boro kemana-mana Jo, ga sempat jalan-jalan sama sekali. Sibuk terus bekerja biar uangnya bisa ditabung dan dibawa pulang buat bangun rumah!" Saya pikir itu masuk akal. Kapan lagi kesempatan untuk bekerja keras dengan hasil yang baik. Bayangkan saja jika bisa bekerja 40 jam seminggu dan dibayar upah minimum $15/jam, maka setidak-tidaknya dia memperoleh $600/minggu. Apalagi jika dia juga punya pekerjaan sampingan. Sebulan bisa memperoleh ribuan dollar. Jika dibawa pulang sesudah beberapa tahun bekerja maka dia bisa membangun rumah. Itu baik dan sama sekali tidak salah. Setiap orang punya cara masing-masing dalam menjalani hidup. Teman saya ingin punya rumah, apa salahnya? Tidak ada.
Saya juga pernah menulis tentang menjalani hidup, hidup in the present, bahwa banyak hal yang telah kita sia-siakan: AES 900 How Many Things Have We Missed? dan banyak lagi. Pada intinya kita jarang memiliki awareness dalam menjalani momen-momen kehidupan. Kita sibuk mengejar banyak hal tapi juga kehilangan banyak hal, sangat ironis (atau paradoksal) bukan? Nah saya tidak menginginkan itu terjadi. Saya ingin benar-benar "mengalami" semua moment dalam hidup. Tapi saya juga punya keterbatasan. Kemampuan saya mengingat tidak selalu baik apalagi dengan proses bertambahnya usia. Nah, dalam usaha menjawab bagaimana 3 tahun terakhir yang saya rasakan, saya berusaha membuat mesin waktu. Yaitu dalam bentuk tulisan!
Pengalaman tentang waktu sebetulnya menurut saya tergantung dari mood yang kita miliki ketika menjalaninya. Ketika kita sedang bosan, maka kita akan merasa waktu bergerak sangat lambat tertatih-tatih dan menantang kesabaran kita; tapi sebaliknya, jika kita sedang sangat bersemangat, mood kita begitu baik, maka kita memiliki kesan bahwa waktu begitu cepat dan lewat begitu saja, sampai-sampai kita merasa tidak punya waktu tersisa untuk menikmati saat-saat yang menyenangkan itu. Tapi apapun yang kita alami, semua itu bisa terlupakan begitu saja. Katanya manusia hanya memiliki kemampuan 10% saja untuk mengingat suara, 20% mengingat hal-hal yang dibaca dan 80% yang mereka lihat. Tapi untuk berapa lama? Tidak bisa kita menyimpan itu selamanya bukan? Nah untuk itu, semua peristiwa yang saya alami berusaha saya catat.
Saya ingin hidup in the present! Kalau saya bisa terus menjalani itu, maka saya akan dapat menjalai hidup to the fullest, segala sesempatan saya coba raih jika mampu. Tapi semua itu bisa terlupakan. Dengan menulis saya seolah-olah menciptakan mesin waktu. Walau saya hidup in the present tapi my mind can freely travel through time, kembali ke masa-masa lalu dengan membaca serta "mengalami" kembali saat-saat di masa lalu yang sudah saya catat. Dengan menulis, saya juga sekaligus melatih awareness dalam menjalani keseharian saya. Tanpa itu, bagaimana saya bisa mempu mencatat apa yang saya alami? Kemarin saya katakan bahwa menulis membuat saya lebih peka dan lebih mampu melihat banyak hal, itu juga merupakan bagian dari awareness. Nah itu sudah saya jalani selama hampir 3 tahun. Beruntung saya ikut Atomic Essay Smipa, karena itu merupakan wahana saya dalam melatih diri sekaligus juga membuat saya konsisten dalam menciptakan mesin waktu.
Lalu apa yang saya rasakan selama 3 tahun ini? Berjalan dengan cepat! Karena mood saya hampir selalu baik! Hahahaha.. Saya katakan hampir karena siapa yang tidak pernah mengalami hari dengan pengalaman buruk? Itu semua saya catat dalam mesin waktu! 
Foto credit: rossonl.wordpress.com/2018/10/12/four-models-of-time-travel-2/
Terima kasih buat jawabannya pak Jo.. banyak belajar saya. Sungguh proses belajar yang luar biasa, terutama untuk mengenali dan menghadirkan diri, sekaligus mendorong diri.. 🙏🏼