AES 47 There is No Cure For ...
joefelus
Wednesday July 7 2021, 7:40 AM

Bunyi Saxophone yang dimainkan oleh Yusuf Lateef dengan diiringi dentingan piano, entah siapa yang memainkan, mengalun dengan lembut di kantor saya yang sepi. Hari ini saya kembali ngantor walau sebetulnya tidak banyak yang bisa dikerjakan. Jam 8:15 tadi sudah selesai semua, tapi saya terpaksa harus menunggu hingga siang nanti karena ada Production/Inventory meeting bersama executif Chef dan managers.

Saya tidak kenal Lateef, juga tidak mempunyai koleksi albumnya sama sekali. Sebelum pagi ini malah saya tidak ingat apakah pernah mendengar permainannya, tapi untuk suasana pagi ini, cool jazz yang dimainkannya dan diputar di Pandora dapat menghibur saya dan menemani melewati pagi yang panjang ini.

Sambil memandangi layar komputer dan mendengarkan lagu, saya mulai membayangkan situasi yang terjadi di Indonesia yang sepertinya untuk banyak kalangan sulit dicerna jika saya melihat kepanikan, keluhan serta suguhan berita-berita di surat kabar maupun sosial media.

Ada seorang teman yang mengeluh bahwa jalan Setiabudi di Bandung dari bagian atas ditutup sehingga dia terjebak macet. Ada teman yang menampilkan foto di dalam apotek di mana puluhan orang antri berjejer (hmm.. emang antri obat apa ya? mudah-mudahan bukan obat cacing yang lagi viral itu), lalu ada juga yang menampilkan foto jalanan yang lengang, kosong tidak ada kendaraan. Ada lagi yang menampilkan foto 2 orang memegang poster yang mengeluh bahwa mereka hanya jual kopi tapi harus buka PO karena takut kalau buka, dan sebagainya.

lalu saya ingat kemarin membaca essay salah seorang kakak yang menulis tentang adaptasi. Nah mungkin ini bagian dari proses adaptasi masyarakat. Adaptasi adalah aksi atau proses perubahan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik terhadap suatu situasi. Sebetulnya segala bentuk aksi dan behavior yang dilakukan manusia, sesederhana apapun dan kadang se-naif apapun masih saya anggap "cerdas" dan tidak ekstrim jika dibandingkan dengan binatang. Contoh, pernah melihat cicak? salah satu perbuatannya dalam usaha untuk self defense yang disebut dengan Autotomy, yaitu dengan cara memutuskan ekornya sebagai bentuk distraksi pada lawannya sehingga dia punya waktu untuk kabur. Nah ini bentuk reaksi yang ekstrim menurut saya. Manusia lebih menggunakan akal dalam menghadapi situasi yang mengancam kehidupannya, namun sisi menariknya adalah intensitas penggunaan akal yang kadang justru tidak masuk akal! hmm.. ini apa ya? ironis?

Yang saya saksikan mengenai penggunaan akal yang tidak masuk akal adalah bagaimana tindakan yang mereka ambil di luar batas logika yang wajar. Seperti misalnya berebut membeli susu sapi yang bermerk beruang yang dipercaya dapat menangkal Covid, nah lo! Lalu masyarakat banyak yang lebih percaya pada tulisan-tulisan berantai yang tersebar di media sosial tanpa melakukan penelitian daripada ungkapan dokter yang mengerti di bidang kesehatan. Misalnya minum minyak kayu putih, banyak minum air hangat agar virus mati! Kalau dipikir secara logis jika benar minum air hangat virus akan mati, tentu akan sangat murah dan mudah menuntaskan pandemi ini. Nah lo no 2!

Lalu ada yang menampilkan sebuah dialog seperti ini:

A: Saya tidak percaya adanya Covid. Ini cuma rekayasa pemerintah!

B: Terus lo ga divaksin?

A: Engga lah itu khan cuma bisnis!

B: Ya udah kalo engga percaya, sini mampir ke rumah. Gw dan keluarga sedang isoman karena hasil Swab positif.

A: Ga mau ah, takut tertular.

B: Loh katanya lo ga percaya, ayo sini buktikan!

A: Ga ah, makasih!


This image has an empty alt attribute; its file name is screenshot_20210706-101820_google3085425597165249612.jpg
 Ditaruh di sini, ga tega kalau di bawah judul! hehehe


 

Nah sekarang di sisi mana akal sehatnya dipakai? Anehnya hal semacam ini terjadi di hampir seluruh dunia, termasuk negara maju, termasuk politikus kanan (istilah di Amerika). Lebih aneh lagi, sesudah banyak masyarakat yang tidak percaya jadi korban bahkan kehilangan nyawanya, lalu sebelum meninggal menampilkan penyesalannya, tetap orang-orang yang tidak percaya itu ngeyel! Situasi semakin rumit ketika kondisi ini dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk menciptakan panggung dengan mengkritik pemerintah habis-habisan! Menurut saya dalam situasi semacam ini, bukan kritik yang paling utama, turun tangan mencerdaskan masyarakat, beri pengertian yang tuntas dan akurat bukannya maki-maki, bikin jengkel dan masyarakat yang kurang pengertian dan minim informasi malah tambah bingung. Kalau mau hadir dan ikut urun rembuk di media sosial, sebarkan informasi akurat bukannya menyebar berita yang kacau tapi tidak ada sumbangsih yang nyata dalam upaya penyelesaian masalah. Saya jadi percaya akan ungkapan yang agak kasar ini (tapi sayangnya benar) yaitu, There is no cure nor vaccine for stupidity! ***

 

You May Also Like