Sekarang menjelang tengah malam. Saya belum menuntaskan tulisan yang harus saya unggah hari ini. Ini usaha saya yang kedua untuk menulis, yang barusan tanpa sengaja terhapus jadi saya harus mengulang lagi.
Saya ingin membuat beberapa catatan tentang pengalaman yang membuat saya overwhelmed, kewalahan. Bukan fisik tapi lebih pada emosi dan pikiran. Kenapa saya kewalahan? Karena saya tidak tahu harus memulai dari mana.
Masih berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Saya akan berusaha membuat catatan positif dan konstruktif bukan gibah. Itu yang akan saya usahakan. Kenapa begitu? Karena bentuk pelayanan kesehatan di Bandung, dari jaman saya kecil ya mirip-mirip seperti ini. Fasilitas memang sangat jauh lebih baik, tapi saya ingin membuat catatan dari preferensi yang saya miliki.
Yang pertama, masalah safety. Safety disini bukan masalah sekuriti, bukan keamanan dari ganguan kejahatan, bukan itu. Tapi merupakan keamanan bagi seriap orang agar tidak terkena dampak buruk. Maksudnya begini. Di rumah sakit di Bandung, rata-rata tidak membedakan ruang untuk pencegahan, perawatan pasien berpenyakit menular mapun yang tidak menular. Semua dicampur.
Misalnya, Kemarin sahabat saya kebetulan bersama-sama di ruang bagian penyakit dalam. Dia ingin konsultasi masalah bone density, sementara saya ingin mencari informasi tentang Nina. Teman saya khan tidak sakit tapi selama menunggu, dia harus berkumpul dengan orang-orang yang terbatuk-batuk, dan yang memiliki berbagai penyakit lainnya. Nah bukankah ini sangat berbahaya? Saya melihat jika orang-orang yang ingin melakukan tindakan pencegahan. Alih-alih mereka mencegah, karena disatukan dengan pasien berpenyakit menular, mereka justru bisa pulang membawa permasalahan baru karena tertular. Nah ini sepertinya yang harus dipikirkan oleh pihak rumah sakit.
Selama saya di rantau, pasien biasanya hanya berada di satu ruangan. Semua proses treatments dilakukan di sana. Mengambil data-data vital seperti suhu tubuh, berat badan, tekanan darah dan sebagainya. Begitu selesai dokter akan masuk dan jika dibutuhkan, petugas laboratorium akan datang mengambil darah dan sebagainya, kecuali jika pasien membutuhkan peralatan khusus seperti x-ray, maka pasien harus ke ruangan radiology. Dulu Kano setiap kali ke dokter harus EKG, maka petugas dengan membawa peralatan datang ke ruangan bukan kami yang ke sana. Tujuan semua itu demi keselamatan pasien tidak ada kontak dengan pasien lain yang membawa banyak penyakit.
Saya sungguh mengerti kesulitan pihak rumah sakit di Bandung karena memang banyaknya pasien yang berobat. Yang saya ceritakan barusan adalah yang ideal. Hampir tidak mungkin seorang dokter berpindah-pindah ketika memiliki pasien yang luar biasa banyaknya. Kemarin saya nomor 25, dan masih banyak yang sesudah saya. Bayangkan!
Hal lain yang saya perhatikan juga adalah masalah administrasi. Nah ini agak lucu dan lagi-lagi saya harus mengerti kondisi ini. Mengelola rumah sakit sebesar ini tidak mudah dan masalah biaya akan menjadi fokus tersendiri. Sistem yang berkaitan dengan keuangan di tanah air sangat rumit. Di rantau, pemerintah dapat memantau segala sesuatu yang kita miliki, dari kekayaan hingga masalah kriminal karena setiap orang hanya memiliki 1 set nomor. Jadi jika pihak tertentu mengetahui nomor sosial security saya, maka akan terlihat semuanya. Berapa gaji saya, berapa hutang saya, hingga berapa kali saya melanggar lalu lintas, semua ada. Nah urusan keuangan juga sangat rapih. Jika saya mendatangi rumah sakit dan tidak membayar, maka pihak lain bisa mengetahuinya. Tingkat kepercayaan pada saya langsung merosot dan saya tidak akan pernah dapat meminjam uang dari bank, misalnya. Jadi saya tidak bisa seenaknya mangkir dari membayar hutang. Jika skor kredit saya jelek, maka untuk menyicil membeli barang elektronik, misalnya, pasti ditolak. Hidup saya akan jadi kacau. Nah, karena sistem semacam ini, pihak rumah sakit tidak khawatir jika pasien tidak membayar jadi urusan administrasi nanti yang terakhir. Perawatan dahulu, bayar belakangan. Karena sistem seperti ini tidak ada di tanah air, otomatis tidak ada unsur trust antara pihak pasien dan rumah sakit. Nah sangat masuk akal jika saya diminta menyetujui biaya yang akan dikeluarkan jika akan periksa darah, misalnya. Saya tahu juga jika akan rawat inap, saya harus memasukan sejumlah dana dulu, baru bisa pilih kamar. Ya sistemnya begitu, jadi bukan saya yang ngomel-ngomel tapi harus bisa beradaptasi.
Satu hal yang bisa lebih diperbaiki adalah passion. Memang sangat menantang harus menghadapi ratusan pasien tiap hari, tapi mudah-mudahan menjadi petugas kesehatan adalah panggilan. Yang saya alami beberapa waktu yang lalu di bagian gawat darurat adalah masalah passion. Teman saya mengalami hal yang lebih parah. Keponakannya masuk bagian emergency karena keluhan pusing. Perawat berkata:" IGD ini sedang penuh, jangan ogoan." Tidak lama anak itu tidak sadar diri dan akhirnya meninggal. Atau seperti kasus dengan Nina beberapa waktu yang lalu. Bagaimana seandainya itu infeski yang parah? Kami diijinkan pulang lalu saya baru tahu kemarin bahwa memang ada infeksi. Jika ada infeksi semacam itu, keterlambatan mengetahui hasil akan sangat berbahaya! Ini bisa diperbaiki. Passion secara tidak langsung dapat meningkatkan empati. Hal-hal semacam kasus yang saya sebutkan barusan mungkin dapat dihindari.
Foto credit: verywellmind.com