Sepertinya pagi ini saya harus berusaha keras untuk berpikir jernih. Kurang istirahat semalam membuat sulit untuk konsentrasi dan memilih topik obrolan hari ini. Barusan saya memejamkan mata sejenak dan memberikan sedikit waktu agar tubuh saya dapat menjadi lebih segar.
Semalam saya membaca sedikit informasi tentang tingkat literasi masyarakat di Amerika. Kasus terbesar yang sedang dialami saat ini adalah bagaimana masyarakat dengan mudah dapat dibohongi. Banyak fakta yang secara gamblang menunjukkan bahwa masyarakat di Amerika saat ini mudah sekali dikelabui dengan menggunakan fakta yang salah. Berita-berita bohong mereka yakini sebagai suatu kebenaran. Sangat mengerikan.
Sumber yang saya peroleh dari NLI, National Literacy Institute, menjabarkan bahwa setidak-tidaknya 52 juta orang dewasa di Amerika buta huruf. 141 juta (54%) orang Amerika kemampuan membaca mereka tidak melebihi kemampuan anak-anak seusia 11 tahun. Baru membaca 2 fakta ini saja saya langsung mengerti mengapa kondisi Amerika yang telah terbelah menjadi 2 kubu ini menjadi semakin parah. Fakta ketiga menyatakan bahwa 57% penduduk memiliki pendidikan setara SMA kebawah. Dan yang terakhir, yang memiliki tingkat literasi rendah adalah kebanyakan orang dewasa berkulit putih yang lahir di Amerika! Ini semua adalah data-data yang akurat.
Yang menurut saya mengerikan dengan kondisi perekonomian yang semakin semrawut saat ini karena perang tarif antara Amerika-Kanada-Mexico-China dan mulai merembet ke Eropa adalah lebih dari 50% masyarakat Amerika menelan mentah-mentah ucapan-ucapan yang dikeluarkan oleh pemimpin mereka yang tidak tepat. Banyak fakta yang menyesatkan yang diungkapkan oleh pemimpin mereka yang dipercayai begitu saja.
Sangat masuk akal jika mereka dengan begitu saja percaya karena jika kembali mengamati statistik dan fakta tentang tingkat literasi mereka yang rendah, maka kemampuan mereka untuk mengolah informasi pun menjadi terbatas. Jika saya mengamati berbagai diskusi di internet, saya seringkali terheran-heran melihat bagaimana mereka mengagung-agungkan pemimpin mereka yang note bene adalah seorang yang gagal dalam berbisnis (terbukti dengan banyaknya bisnis dia yang gulung tikar), seorang yang terbukti bersalah di pengadilan untuk kasus kriminal, penggelapan pajak dan sebagainya. Saya sungguh tidak mengerti bagaimana seorang seperti itu masih dipuja-puja. Lebih parah lagi, bagaimana orang yang terlibat secara kriminal dapat memimpin sebuah negara adi kuasa.
Silakan saja mencari unggahan-unggahan berita di internet tentang fakta-fakta yang menyesatkan yang diungkapkan oleh dia. Banyak data dan fakta yang tidak tepat (baca: salah) yang dia gunakan. Nah, sangat tidak masuk akal jika masyarakat dengan mudah menelan semua kebohongan itu bulat-bulat. Namun setelah saya mengetahui data statistik tentang tingkat literasi masyarakat, sekarang menjadi terbuka lebar.
Kita semua meyakini bahwa masyarakat, termasuk diri kita, tidak menyukai dan membenci ketidakpastian. Perasaan dimana kita tidak memiliki kontrol atas situasi yang sedang dihadapi, sangat tidak menyenangkan dan akan terus menerus membuat khawatir. Kalau saya memang begitu. Nah kondisi seperti itu sepertinya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkuasa untuk memanipulasi masyarakat yang sedang gamang ini. Kelemahan yang mereka miliki dimanfaatkan dengan menjanjikan semacam ilusi akan kontrol yang akan mereka bisa miliki. Harga-harga kebutuhan sehari-hari akan turun, kita akan menjadi bangsa yang lebih baik, kesejahteraan akan dikembaikan, kita akan melepaskan diri dari para koruptor, kelompok komunis, dan sebagainya. Padahal jika kita jeli yang dia lakukan sekarang adalah sangat authoritarian dan sangat berbau fasisme. Mereka yang menentang atau pernah menentang dia langsung dipecat dan diganti dengan orang-orang kubunya. Itu salah satu contoh yang sangat jelas.
Yang kedua, suatu yang sangat wajar jika masyarakat itu menurut pada kekuasaan. Ketika seseorang merasa ada kekuatan yang melebihi kekuasaan dia, maka dia biasanya akan menerima. Sekarang bayangkan jika mayoritas masyarakat begitu, maka yang diucapkan orang yang berkuasa menjadi sebuah kebenaran. Bayangkan juga jika ada ancaman dikenakan sanksi jika melanggar, misalnya, maka ucapan pihak yang berkuasa akan mampu mengalahkan realitas objektif dan pendapat pribadi. Nah gabungkan itu semua dengan kemampuan literasi. Semakin lemah, maka akan jelas sekali dampaknya.
Itu baru dua pemikiran yang saya angkat, belum lagi urusan emosi. Bukan hal yang aneh jika kelompok yang tingkat literasinya rendah seringkali lebih mudah terjebak dalam masalah emosi. Kemampuan literasi seringkali memiliki korelasi dengan emotional inteligence. Sederhana saja, penelitian menyatakan bahwa orang yang berpendidikan biasanya lebih mampu mengendalikan emosinya. Nah, jika perlu bukti, silakan masuk ke dalam diskusi-diskusi di internet. Orang yang pendidikannya rendah, tingkat literasinya rendah lebih sering menunjukkan perundungan. Dalam diskusi daripada mendebat dengan mengungkapkan fakta, mereka lebih sering menyerang pribadinya dengan menggunakan kata-kata yang menghina. Hmm.. ini jadi mengingatkan saya pada pemimpin itu yang senang memberi nama-nama julukan penghinaan pada orang-orang yang menjadi lawannya entah dalam politik atau bahkan kepala negara lain. Apakah ini menunjukkan bahwa dia memiliki tingkat literasi rendah juga? Hahahaha...
foto credit: vitaliyb.wordpress.com
Kondisi yang sama dengan di Indonesia Joe. 🤔
Sayangnya begitu