Ketika kita membaca sebuah kisah, cerita atau bahkan sebuah artikel, secara otomatis, entah sadar atau tidak, kita biasa mengkaitkan dengan diri sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Rudine Sims Bishops, seorang profesor dari Ohio State university, beliau mengatakan begini: “Literature transforms human experience and reflects it back to us, and in that reflection, we can see our own lives and experiences as part of the larger human experience. Reading, then, becomes a means of self-affirmation, and readers often seek their mirrors in books.”
Tadi pagi sya membaca sebuah cerita sangat pendek yang mengisahkan seorang anak petani. Dia dibesarkan di sebuah keluarga petani ubi yang hidupnya sederhana. Dia bercerita bahwa pagi hari bagi keluarganya adalah ketika hari masih gelap. Jari dan kuku tangan selalu penuh dengan tanah dan sebagainya. Dia kemudian mendapat sebuah beasiswa untuk belajar di sekolah elit dan dipandang sebelah mata oleh teman-temannya karena cara berpakaiannya, tubuhnya yang bau pertanian bahkan sepatunya yang dekil. Dia selalu menunduk karena merasa minder hingga pada suatu hari sekolahnya mengadakan bazar dan karena semua siswa diminta membawa sesuatu untuk dijual, dia membuat pie ubi yang langsung habis dalam waktu kurang dari 20 menit. Pie ubinya menjadi terkenal, dipesan oleh teman-temannya bahkan guru-gurunya. Dan ketika di akhir tahun dimana semua siswa mendapat tugas untuk bercerita tentang diri sendiri, dia membuat sebuah video tentang kehidupannya sebagai petani. Di awal dia sangat malu ketika videonya dipertunjukkan di seluruh sekolah, tapi di akhir semua siswa berdiri dan bertepuk tangan. Di akhir dia berkata, "Menjadi petani tidak berarti dia lebih rendah dari yang lain, Being a farmer doesn't make me less"
Itu kata-kata yang sangat dalam bagi saya, dan seperti saya katakan di awal, ketika saya mulai dengan obrolan hari ini, ketika kita membaca sesuatu, buku, bacaan dan tulisan menjadi sebuah transformasi kehidupan seseorang yang memantul kembali kepada diri kita. Secara otomatis kita mengkaitkan pengalaman orang lain dengan pengalaman kita sendiri. Bukan membandingkan, mungkin itu juga sih, tapi setidak-tidaknya kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain dan pada saat yang sama kita juga merasakan pengalaman yang pernah kita hadapi.
Lebih dari 8 tahun, anggap saja 9 tahun ketika saya mulai menulis blog karena ajakan kak andy, saya sering bercerita sebagai seorang anak kampung yang berusaha berbaur, terlibat, dan melawan perasaan secluded atau merasa terasing karena berada di level sosial yang berbeda. Saya dapat ikut merasakan pengalaman anak petani ubi tadi lalu tanpa sadar merenung seolah-olah kembali mengulang semua pengalaman sebagai serang anak dekil dengan celana penuh tambal-tambalan di kampung hingga kehidupan membawanya melanglang buana. Sebuah pengalaman hidup yang luar biasa dan harus disyukuri setiap saat karena ternyata semesta sudah sangat baik "merawat" diri saya.
Nah, beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis di sebuah draft tentang trying to belong, trying to connect dan bet on everything, hanya 3 frase itu, lalu saya katakan juga beberapa hari kemudian saya lupa berkaitan dengan apa dan mengapa saya menulis frase itu. Hari ini saya masih tetap lupa (hahaha) tapi dapat dikaitkan dengan apa yang saya baca dan saya rasakan pagi ini. Itu yang sudah saya alami, berjuang untuk mencoba memiliki atau menjadi bagian dari sesuatu yang besar dengan menghadapi pengalaman-pengalaman baru, terlibat dalam level sosial yang berbeda, mengalami hal-hal yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, berusaha ter-connect dengan situasi yang dialami, sebab jika tidak walaupun kita berada di kalangan para Raja dan istana sekalipun jika kita tidak terhubung maka kita akan tetap menjadi orang asing yang tidak akan dapat mengalami peristiwa itu dengan sempurna, dan terakhir bet on everything, mempertaruhkan semua kekhawatiran, rasa gamang dan takut serta mungkin harga diri demi bisa meng-akar dengan situasi saat itu (atau bahkan saat ini), karena dengan itu semua kita dapat mengalami dan menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya tapi pada saat yang sama tetap menjaga jati diri dan menjadi diri sendiri apa adanya.
Foto credit: medium.com