AES 1447 Institutionalized
joefelus
Monday August 11 2025, 11:10 AM
AES 1447 Institutionalized

"Service-nya sekitar 3 jam, ya Pak. Ini ada voucher kopi dan kalau berminat bapak dapat naik ke lantai 2, ada kursi pijat." Kata mas Ucu, petugas yang melayaninya saya untuk servis kendaraan pagi ini. Saya mengucapkan terima kasih dan memilih sebuah meja besar untuk menunggu sambil mengeluarkan laptop. Pagi ini saya ingin menulis walau belum tahu akan ngobrol tentang apa.

Pelayanan purna jual di Indonesia memang luar biasa. Pelanggan dilayani seperti orang yang sangat penting. Tempat duduk yang nyaman, dan dapat duduk sambil menikmati kopi espresso yang enak tanpa dikenakan biaya, kalau mau pijat pun tinggal naik ke lantai 2. Sementara jika saya pergi ke tempat servis kendaraan di Fort Collins, tidak ada pelayanan semacam ini, bahkan saya ingat suatu waktu saya marah besar karena sudah menungu selama 1 jam kendaraan saya masih berada di tempat parkir. Petugas lupa! Saya memang tidak kembali lagi ke sana, karena kecewa ditambah saya harus duduk diantara tumpukan ban mobil yang memberikan aroma karet yang sangat kuat. Biasa seusai saya servis kedaraan, tubuh saya bau karet! Pelayanan di sana tidak sepenting di sini, mungkin karena persaingan di Indonesia sangat tinggi, sementara di Fort Collins mungkin tidak setinggi di sini. Saya tidak tahu juga.

Itu semua memang masa lalu. Sekarang kehidupan saya sudah berbeda. Sudah hampir setahun, persisnya besok saya tepat setahun kembali berdomisili di Bandung. Saat ini tahun lalu saya sedang berlari-lari di bandara internasional di San Fransisco karena hampir tertinggal pesawat. Pesawat yang tebang dari Denver ke San Fransisco terlambat 3 jam. Saya harus berlari-lari karena pesawat berangkat 10 menit lagi sementara saya butuh waktu minimal 20 menit untuk pindah terminal untuk pesawat berikutnya menuju Singapore. Pengalaman penerbangan terburuk seumur hidup, bahkan pesawat dari Singapore menuju Cengkareng mengalami kerusakan ketika baru 10 menit lepas landas. Pengalaman terburuk sekaligus menakutkan, padahal saya menggunakan salah satu maskapai terbaik di dunia!

Ya, itu sudah lewat, masa lalu. Tapi saya adalah manusia, yang walaupun punya pilihan untuk melepaskan diri dari kungkungan masa lalu, tetap seringkali masih teringat pada masa lalu seperti cerita seekor gajah yang terikat pada sebatang pohon yang ingin saya ilustrasikan berikut ini.

Ada seekor anak gajah yang terikat pada sebatang pohon. Dia sempat berusaha untuk melepaskan diri, tapi karena gajah ini masih kecil dan tali terlalu kuat, akhirnya dia menyerah. Waktu berlalu, gajah bertambah besar hingga menjadi seekor gajah dewasa yang sangat kuat, tapi gajah itu tidak lagi berusaha melepaskan diri. Pengalaman masa lalu dia tetap mengatakan bahwa tali terlalu kuat dan pohon terlalu besar. Dia lupa bahwa tubuhnya sudah sangat besar dan memiliki kekuatan luar biasa yang tentunya dapat memutuskan tali bahkan menumbangkan pohon.

Kisah diatas hanya sebuah metafor yang menggambarkan sebuah keterbatasan dalam hal kepercayaan diri. Gajah itu tidak sadar akan kemampuan dirinya. Manusia juga begitu, seringkali begitu terjebak pada kegagalan maupun pengalaman buruk di masa lalu dan akibatnya kepercayaan pada diri sendiri luntur dan mengalami kesukaran dalam menghadapi tantangan masa kini. Tali pada gajah itu mengibaratkan keterbatasan akan keyakinan dan ketidak-mampuan dalam melihat potensi diri.

Manusia memang sering terjebak pada kondisi seperti ini. Masalah-masalah di masa lalu seringkali menjerat hingga sulit untuk melangkah ke depan. Filem Shawshank Redemption yang dibintangi Morgan Freeman dan Tim Robbins, mengingatkan saya pada sebuah percakapan mereka:

"These walls are funny. First you hate 'em, then you get used to 'em. Enough time passes, you get so you depend on them. That's institutionalized."

Seseorang yang terjebak pada sebuah kondisi seringkali membuat dia tidak mampu untuk menghadapi tantangan yang berada di hadapannya. Dalam film itu salah satu narapidana yang sudah puluhan tahun dipenjara, namanya Brooks, akhirnya diberi pengampunan dan kembali hidup di masyarakat. Dia yang sudah terbiasa hidup dikelilingi dinding penjara, menjadi seorang yang memiliki peran di perpustakaan penjara, tidak mampu beradaptasi di kehidupan di masyarakat. Dinding penjara telah menjerat dia dan menjadi terbiasa hidup di dalamnya. Ketika perubahan terjadi, dia tidak mampu menghadapinya. Hidup dia sudah terinstitusionalisasi, institutionalized. Dia lebih suka terpenjara daripada hidup bebas.

Tentu saja saya tidak seperti anak gajah itu atau Brooks yang terperangkap masa lalu. Justru saya merasa bersyukur ada hal-hal positif yang bisa saya nikmati di Bandung. Memang semuanya relatif, juga ada trade off, di satu sisi ada yang lebih baik, di sisi lain ada yang lebih buruk. Tidak ada yang sempurna. Saya lebih melihat pengalaman masa lalu sebagai suatu kekayaan, sebagai sesuatu yang bisa dirangkul dan dimiliki, tapi juga ada yang bisa dilepas dan saya lupakan. Pada intinya, saya punya pilihan.

You May Also Like