If the water is not deep, it will not have the ability to carry a big boat. Pouring a cupful of water into a small depression on the ground can only float a blade of grass.
Maksudnya bisa jadi semacam menuangkan air yang terisi penuh dari gelas besar seukuran gelas es teh manis jumbo, ke cekungan kecil tanah seluas-sedalam tapak hasil injakan sepatu sepak bola yang ada pul (tonjolannya) di tanah rumput yang lembek. Hanya bikin tenggelam sebatang dua batang rumput di lapangan sepak bola. Kasihan juga si rumput sebatang dua batang yang tenggelam, ketumpahan es teh manis jumbo. Padahal lapangan rumput secara luas kering-kering aja tuh.
If the wind is not massive, it will not have the strength to support the big wings. Therefore, with the support of the wind from below and with its back to the blue sky and without encountering the slightest resistance, the peng then flies ninety thousand li southward.
Maksudnya semacam, seekor burung yang besar dan kuat yang namanya Peng itu kalau hendak terbang setengah kilometer menjemput kemegahannya, tetap perlu dukungan angin yang masif. Masif tuh semacam padat, utuh, gak bolong-bolong kayak keju swiss. Emang angin yang padat kayak gimana? Kayak angin di pantai. Hmm… bisa jadi ini yang jadi pertimbangan arah selatan itu ya. Karena selatan digambarkan sebagai arah datangnya kesukesan karena kapal-kapal besar berlabuh di pantai selatan setelah mengarungi lautan tak terhingga. Selatan juga merepresentasikan api, matahari, pencerahan.
The cicada and the quail make fun of the peng and say, “When we want to fly, we stop when we bump into an elm or a fang tree. Sometimes before we reach a tree, we land on the ground instead.
Ini, standar sih. Makhluk kecil selalu bertindak mengecilkan makhluk lainnya, apapun ukurannya. Jadi kelintas kata-kata Soe Hok Gie, “Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.” Orang yang ber-pikiran kecil, biasanya mengecilkan orang lain dengan pemikiran-nya, perbuatannya, dan perkataannya.
What is flying ninety thousand li to the south for?” Those who go to enjoy the green pastoral need bring food for three meals only; on returning, they still feel full. Those who go one hundred li away need overnight provisions. Those who go one thousand li away need enough food for three months. How could these two little creatures know that?
Ini juga standar sih, ngomongin soal kemampuan. Sepertinya. Karena tidak pernah ada yang namanya kemauan. Hanya ada kemampuan. Kemampuan pertama dan mula-mula kan mampu untuk mau. ‘Mau’ itu kan efek samping dari jelasnya visi, imaji, harapan dari suatu kesadaran yang memiliki badan (orang). Kalau orang itu maksimal kejelasan visinya di makanan, yaa.. kemampuannya mau makan terus, jadi mampu untuk terus menambah porsi makanan. Makanan beneran ataupun makanan sensasi-sensasi pencapaian kehebatan. Semacam mengonsumsi pride. Ketidak mampuannya, di mengurangi porsi konsumsi, mau konsumsi makanan, pengetahuan, kebanggaan, pengakuan, apapun lah. Alasannya, “gak mau aja.”
Those who know a little do not understand those who know a lot. Those who are short-lived do not understand those who are long-lived. How do we know that? Creatures that live only for one day do not know the duration of one month. Cicadas live only for one season and do not know spring and autumn. These are the short-lived.
Ini, udah jelas lah ya. Udah mulai terasa malas ngomong (padahal ngetik). Jadi sekian dan terima saja.