Alasan hadir mengena pada nafkah para pekerja, padahal hanya membela kepentingan pengusaha.
Alasan juga bisa dikenakan pada sejauh mana penggunaan berkurang, sebesar apa sih dampak pengubahan kebiasaan puluh tahunan.
Ah, yang penting ada sensasi. Toh para jamak mengonsumsi.
Hulu sebagai pemahaman.
Hilir sebagai perayaan.
Krisis energi, energi untuk dikonsumsi menipis. Hentikan saja konsumsi. Alih-alih menghentikan aliran energi.
Alasan hadir mengena pada produktivitas. Ya, penguasa membuat para jamak jadi elemen produksi. Baut bagi mesin pabrik.
Ah, bahkan bayi yang baru lahir itu pun fabrikasi definisi-definisi. Indikator, nama dan rencana sekolah untuknya.
Kemudian perayaan kegelapan dimulai, menunda satu jam energi untuk kemudian diledakan dalam koar-koar telah menghemat satu jam.
Ah, koar-koar semenit itu sudah habiskan lebih dari yang dihemat satu jam. Yang penting perayaan, toh kita seringkali butuh pengalihan.
Yang menggemaskan seperti angsa ganas adalah bahwa sesuatu terjadi, sudah begitu bukan hulu yang dibenahi. Malahan sibuk berisik di hilir.
Rrrr….
Ah, kita memang suka menyangkal. Lalu berkeras-alasan agar tidak dipersalahkan.
Sestagnan itukah? Memberikan diri kepada sistem. Merelakan diri dibodohi para terpelajar licik di kursi para raja cilik.
Merdeka! Kita berteriak di tengah perayaan.
Merdeka memilih! Bahkan untuk memilih jadi bodoh.