Kalau `kata-kata adalah senjata` (Wiji Thukul), bisa jadi yang lisan adalah belati dan yang tulisan adalah sarungnya. Pisau tanpa sarung sama seperti cutter tanpa pengaman, menyayat jari yang sedang memotong kertas untuk membuat karya. Kalau tidak batal bikin, jadi ketunda deh. Seperti biasa.
Kalau `menulis adalah bekerja untuk keabadian` (Pramoedya), maka tidak menulis bisa jadi bekerja untuk kesementaraan. Tidak ada yang lebih baik koq karena keduanya saling melengkapi. Kesementaraan kan keabadian yang diulang-ulang, sedangkan kesementaraan-kesementaraan terangkai jadi keabadian.
Terus ada celetukan, “Saya gak mau bekerja untuk keabadian, keabadian yang bekerja untuk saya dong.” Yak, persis! Dan cara agar keabadian bekerja untuk kita adalah dengan kita bekerja untuk keabadian. Seperti, cara untuk makan adalah lapar dahulu dan cara untuk lapar adalah makan melulu.
Praktisnya, kalau kita hanya ngomong selalu dan menolak menulis dengan alasan media rekam semakin mudah. Apapun itu hanyalah lisan, tiada tulisan bahkan dengan aplikasi konversi lisan ke tulisan. Itu kan hanya lisan yang dituliskan. Tulisan berbeda dengan lisan. Makanya keduanya sepasang sepaket selaras seterusnya.
Teringat kata Jordan B. Peterson. The only way to learn critical thinking (bukan criticize thought-ing) is learn to write. The only way to articulate your speech is by practice and practice. Terlihat hubungan, praktik artikulasi perlu dasar kemampuan berpikir kritis (bukan berpikir kritik). Maka baiklah untuk memiliki pedang tajam yang tersarungkan.