Aku. Semuanya tentang aku. Bagaimana aku bisa belajar. Bagaimana aku bisa berkembang. Bagaimana aku bisa menjadi aku. Bagaimana lingkunganku menerima aku yang menjadi aku ini. Yah, memang jadinya aku seringkali memosisikan diriku di tempatmu. Itu pun demi membuka jalanku menjadi aku.
Demikian sehingga aku mampu meluaskan diriku untuk menerima berbagai macam pemikiran dan pola pikir. Bisa jadi juga aku lah yang menggunakan berbagai pemikiran dan pola pikir itu. Sebagai sarana komunikasiku dengan lingkunganku dan orang lain di dalamnya.
Memang, secara mendasar aku masih perlu bahkan mengandalkan kemapanan. Apabila anti-kemapanan menjadi keluasan pandanganku, itu hanyalah sarana komunikasiku dengan lingkungan dengan tujuan mendapatkan kemapanan tertentu. Bukankah sekelompok anti-kemapanan yang berkumpul adalah bentuk kemapanan itu sendiri.
Gelar jiwa bebas seringkali yang aku dapatkan dari lingkunganku, saking seringnya ku bersikapn terbuka dan luas dan menerima. Padahal yang kubutuhkan secara esensial adalah aturan. Ketetapan. Ketegasan. Kepastian. Tidak heran kalau ada saat-saat tertentu tendensi ini muncul kan.