Bukankah kita selalu butuh jawaban, terlepas dari benar atau salah yang penting ada jawaban. Benar atau salah pun hanya permukaan yang menyimpan beragam kompleksitasnya sendiri, kita tidak perlu dalami ini. Fokus kepada jawaban, yang jadi solusi atau jadi soal. Solusi soal spirit berarti membutuhkan jawaban dari pertanyaan spiritnya apa atau apa spiritnya?
Jawabannya adalah saya. Jawabannya adalah aku. Jawabannya adalah beta, katong, kita.
Spirit tidak ada dimana-mana selain di diri sendiri, dari diri sendiri kepada diri sendiri. Pernah kan kita diterima atau ditolak suatu komunitas, dengan alasan spiritnya sama atau beda. Tidak ada hubungan dengan kompetensi, ini semua soal kemudahan bekerja saja. Yang memudahkan, spiritnya sama.
We are spiritual being having human experience kan! Terlepas dari moral dan logika, kita semua merespon lingkungan tempat kita berada dan lingkungan tempat berada lah yang membentuk kita. Menjadi roh-nya, spiritnya. Terlepas dari apakah selaras dengan visi misi tujuan sasaran, suatu lingkungan adalah badan dan kita roh-nya.
Visi misi bisa meleset, spirit tidak bisa! Semua yang ada dalam lingkungan ini, ruangan ini, komunitas ini, adalah spirit yang diterima dan dibentuk oleh lingkungan ini. Bahkan kalaupun nilai dasar terkhianati oleh keberadaan tempat ini, tempat ini adalah badan dan kita spiritnya. Bukan tempat yang mengkhianati nilai, orang-orang di dalamnya lah yang begitu.
Jadi, solusi soal spirit adalah aku. Kamu. Kita. Kalau diri kita menyesuaikan diri dengan visi misi nilai dan prinsip, spirit itulah yang kita pancarkan dan kita tarik dari orang-orang lain di sekitar kita. Kalau diri kita, kamu, kita, mengkhianati nilai prinsip misi dan visi, spirit inilah yang menghidupi tempat ini. Apapun spiritnya, tempat ini akan selalu hidup. Setia atau khianat nilai.
Makanya kalau ada tempat yang menolak kita, terima saja penolakannya karena spiritnya berbeda. Walaupun kita sadar bahwa visi misi kita telah selaras sedangkan mereka yang sudah ada di dalam adalah yang mengkhianati dan adalah benalu, spirit itulah realitanya. Sehingga spirit kita tidak akan masuk ke situ.
Kalau kita diterima dalam suatu tempat, berarti spirit kita yang sama dengan orang-orang di dalam tempat itu. Refleksi visi misi nilai dan prinsip baru bisa dilakukan kemudian, ini pun langkah pertama. Langkah keduanya selalu soal memilih, menjadi spirit kecil atau spirit yang besar. Spirit kecil yang menumpang hidup atau spirit besar yang menghidupi.
Hhhhmmmmm....
we are the spiriiiit yeaaah.. 😂
kayak iklan minuman energi (jus sambal)