Menyambung cerita sebelumnya mengenai hak mengajar yang diberikan murid kepada guru. Sehingga guru bukan hanya merasa punya wewenang mengajar yang memang diberikan lembaga kepadanya. Kemudian lupa bahwa mengajar tidak bisa berdiri sendiri, harus ada yang "diajar" atau belajar dari proses mengajar. Bisa yang diajar, bisa juga pengajar, pun keduanya.
Saya punya cerita yang kemudian menjadi evaluasi saya dan tim Kakak. Seorang anak mengalami kesulitan terhadap ritme dan rutin kelas. Ia kehilangan rasa suka untuk belajar, sehingga tidak rela untuk diajar. Saya selalu percaya bahwa kebahagiaan anak pada proses pembelajaran di sekolah adalah salah satu bentuk komunikasi dan rasa percaya yang diberikan untuk orang tua. Sehingga anak langsung yang menceritakan bagaimana keseruan bermain dan belajar di sekolah. Anak yang bahagia di sekolah juga menjadi jaminan rasa aman dan percaya orang tua terhadap Kakak dan sekolah. Maka ketika seorang anak ini kehilangan kesenangannya, hilang rasa sukanya untuk bermain dan belajar di sekolah, orang tua pun turut merasakannya di rumah. Tak heran jika kemudian orang tua juga tidak rela melihat anaknya tidak berbahagia dan berproses sebagaimana mestinya dalam kebahagiaan.
Merespon hal ini, bersyukur memiliki tim yang juga mencintai apa yang dikerjakan bersama, "mengajar". Nah, sekarang masalahnya adalah kami tidak diberi hak mengajar oleh sang anak. Segala yang kami sajikan di kelas, tidak diterima dengan rasa suka. Ketika mengikuti aktivitas, ia hanya melakukan tanpa kerelaan untuk terlibat bersama-sama. Dalam perbincangan sederhaa, kami sepakati untuk mengubah beberapa pendekatan. Tentu saja bukan menekan sang anak apalagi orang tuanya. Lebih kepada "sebuah upaya untuk diberi hak mengajar"oleh sang anak. Bukan dengan rayuan atau permintaan yang lugas, melainkan menyelaraskan pemahaman tentang rasa nyaman dan percaya anak. Dalam beberapa hari obrolan empat mata, mengubah cara komunikasi yang lebih sepadan, dan lebih banyak mendengarkan sang anak, terbitlah kembali simpul senyum yang merekah dengan suka rela. Ia kembali memberi hak mengajar kepada kami. Ah, senangnya. Kita siap kembali bertualang bersama-sama.
Alih-alih menyalahkan kondisi anak dan keluarganya, yang tentu saja itu dapat menjadi faktor yang tak terelakkan. Tetapi bahwa ada pilihan dan perspektif lain yang selalu dapat kita pilih, ialah apakah kita sudah benar-benar diberi hak mengajar oleh teman-teman mungil kita. Dan, apakah kita juga telah memberi hak mengajar kepada mereka, untuk kita juga belajar kepada teman-teman mungil kita. Sehingga bukan kelas yang silang yang terjadi, tetapi saling. Saling belajar, bersama-sama dengan suka rela.