AES 101 Kembali ke Akar?
matheusaribowo
Tuesday July 21 2026, 6:59 PM
AES 101 Kembali ke Akar?

Frasa "Kembali ke Akar" akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk diuji dan dicerna di lambung pikir dan rasa. Pada sebuah hari yang santai, karena memang begitu hari-hariku kini, tetiba panggilan suara berkunjung ke gawaiku atas nama Bayu Mango. Dari balik telepon itu tertangkap sehelai pesan yang intinya: "Datang sekarang, di sini, sudah ditunggu!" maka jawaban satu-satunya adalah "OK"!

Meluncurlah daku menyambangi alamat si asal suara yang kutemukan dari sisa percakapan di telepon tadi. Setibanya, ternyata 1, 2, 3, 4 kepala sudah menanti dengan bibir serentak dan tatapan yang kompak. Sapaan mereka pun serupa seolah ada gladi resik untuk momen kedatanganku itu. Maka tiada pilihan lain, senyum kurekahkan juga lengkap dengan barisan gigi yang juga terlihat untuk menambah keakraban kami dalam pertemuan tanpa rencana ini. Dari pertemuan yang lebih dari 4 SKS ini, lahirlah tanggal untuk pertemuan lain dengan pemeran yang berbeda dan bertambah. Setting tempat pun berubah koordinat, ke selatan Bandung. 

Di selatan Bandung, hari yang sama pada pekan selanjutnya, sebuah pasir menyediakan punggungnya sebagai medan kebersamaan dan arena tukar cerita beserta "rasa"nya. Terutama perihal tema besar yang sudah sampai pada mesin olah kepala dan rasaku, kembali ke akar. Dalam sepersekian detik yang disusupi sesapan jahe gula aren hangat, meletuplah secerca perbincangan berhiaskan aroma jahe di setiap kata-katanya. Seberkas ingatan kemudian membawa arah bincang ke secuplik podcast dari Raditya Dika bersama Mas Faisal. Lamat-lamat suara Mas Faisal terpanggil di belakang telinga, kuran lebih intinya: 

Ketika kita berbicara tentang kembali ke akar pada generasi saat ini (rentang usia remaja), salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan ialah perihal "mencintai". Melihat bagaimana remaja hari ini memahami, menerjemahkan, dan menunjukkan rasa cintanya. Sebab karena tukar gagasan ini terjadi di sebuah kebun, maka turut serta di dalamnya, kami menyertakan konsep masyarakat sunda dalam menjalani dan menghidupi cinta. "Sunda itu bukan suku, siapa saja yang hidup selaras dengan alam, bisa disebut orang sunda." semoga tak kurang pun lebih kalimat dari Kang Arif terputar dan kulontarkan ulang. Artinya, ada suatu masa, sebuah generasi yang identitasnya ditentukan oleh bagaimana cinta mewujud laku dan menggerakkan seluruh aspek kehidupan pada alunan yang seirama, dengan alam, dengan nurani, bersama kehidupan. 

Seperti sebuah benih, yang menyimpan ingatan pada sebutir tubuhnya, yang sama, yang serupa, seisi-isinya, tidakkah bisa dikatakan (atau dipertanyakan), bahwa dari mana mereka (remaja) hari ini meletakkan dasar dirinya, cintanya, selain dari pada "pohon" atau "buah" sebelumnya? Jika anak, bagaimana mereka meniru atau mengikuti cara mencintai (generasi sebelumnya)? Jika itu orangtua atau kakak, bagaimana kita mencontohkan atau menjadi teladan dalam cinta dan mencintai? 

Apakah kembali ke akar bisa kita bawa kepada gelombang cinta dan mencintai, apa yang ditiru atau diwariskan dari itu? Ataukah, kita masih bergulung-gulung dalam riak pertanyaan awal, kembali ke akar, akar yang mana? Akar dari tumbuhan (benih pohon) apa?

You May Also Like