Tiga hari ini bawaanya lapar terus, ingin makan enak tapi belum tahu mau apa. Lihat dikalender aplikasi sedang masa PMS, pantas ga jelas, banyak mau. Begitulah perempuan hidupnya dipengaruhi hormon, tiap bulan hormon naik turun bergantian mengurus tubuh. Tubuh boleh terpengaruh, mood jangan.
Kebetulan mama mengajak sarapan bareng, papa akan berangkat ke luar kota jadi dia sendirian. Saatnya jalan-jalan. Untuk kami warga Bandung Barat pergi ke kota Bandung juga hitungannya jalan-jalan, jauh sih beda kabupaten hehe.
Mama kangen makan kangkung hotplate dan ayam goreng wangi di Sagoo Kitchen. Memang enak sih, salah satu resto favorit kami. Saat tahu kami bakal makan enak perutku langsung keroncongan apalagi terakhir makan kemarin sore.
Sampai disana selesai pesan rupanya minuman kesukaanku habis. Yah minuman gula asem cuma ada disini, belum menemukan lagi tempat yang jual minuman ini, rasanya persis seperti permen gula asem jaman dulu, minuman gula asem kemasan saja tidak sama. Sedih jadi kutinggal tidur sebentar sambil menunggu makanan datang. Rasanya seperti anak kecil menunggu waktu berbuka puasa, lemas, lapar. Masa PMS kadang membuat mellow diriku bukan diriku yang biasa. Biarlah jadi manusia biasa, menerima segala emosi dimasa ini, asal bukan tantrum tidak mengapa. Hahaha gampang lapar boleh, marah jangan.
Bunyi kuah cah kangkung yang terkena hotplate dan wangi semerbaknya membuatku bangun. Ini dia, akhirnya datang. Setelah diaduk-aduk supaya tidak menempel kuambil kangkung, potongan daging dan telur puyuhnya. Tidak sabar kucicipi. Ah memang enak sekali, rasanya seperti yang sudah dibayangkan. Mantul!
Daun kangkung yang lembut, batang kangkung yang masih renyah, empuknya daging dan lembutnya telur puyuh diselimuti kuah kental hangat dipadu nasi putih haaaa enaknya. Penantian ini terbayarkan.
Makan dengan khidmat menikmati setiap suapannya sampai habis tidak bersisa, hahaha tidak mungkin menyia-nyiakan makanan, bisa kualat. Nah saatnya makan ayam goreng sebagai dessert, ayamnya dipotong kecil digoreng sampai garing wanginya dari kecap inggris yang tidak terlalu medok. Pokoknya pas. Ah inilah kenikmatan dunia. Makan enak.
Selesai makan saatnya bengong, mencerna makanan enak tadi tak lama Fajrin berkomentar, “Bu bisa masak ini ga?” Tanpa keraguan kujawab, “Ga bisa Ba dan ga mau, makanan enak kaya gini paling enak dimakan di tempat aslinya!”
Soal makanan aku punya prinsip kuat, makanan enak yang jarang dimasak di rumah tidak perlu diulik resepnya, mencoba recreate. Tidak boleh. Akan merusak preferensi rasanya. Kalau mau masak menu serupa boleh saja tapi jangan meniru, apalagi dimirip-miripin. Kalau kangen makanannya beli saja di tempatnya sekalian jalan-jalan.
Malah kalau sedang kangen kami sering sengaja jalan jauh demi makanan, setelah makan pulang. Beberapa tempat makan layak diperjuangkan. Bahkan beberapa tempat makan yang sempat tutup saja kami tanyakan keberadaannya ke tukang parkir siapa tau hanya pindah, bukan tutup. Sedih jika ada tempat makan yang tutup, yah rasanya tertinggal dimemori saja tidak bisa diulang kembali.
Begitulah hidup kesenangan selalu didapatkan setelah melakukan perjuangan. Rasanya lebih enak saat dinantikan, dibayangkan dulu, setelah berhasil mendapatkannya. Haa bahagia sekali. Hidup makanan enak!