Terbiasa hidup di lingkungan akademis aku yang masih kecil selalu kagum dengan isi pikiran manusia. Dari mulai sekolah sampai kerja dikelilingi orang-orang pintar, orang cerdas, orang yang pengetahuannya luas.
SD di sekolah religius setiap hari berlomba menghafal ayat, lomba calistung, les pelajaran, berangkat pagi pulang sore sudah biasa. SMP di bandung jarak jauh dari rumah, terbiasa disiplin waktu, mengikuti ekstrakurikuler hari sabtu, les pelajaran eksak, naik bus tiap pulang sekolah sudah biasa. SMA di sekolah negeri yang katanya unggulan, ditampar kenyataan bahwa kerja keras saja tidak cukup untuk mengejar mereka yang cerdas, les sampai malam sudah biasa. Masuk fakultas yang isinya orang-orang yang tidak kalah cerdas dan ambisius, dosen-dosen yang titelnya sepanjang rel kereta, membuatku lebih kagum lagi. Pintar sekali mereka. Masuk dunia kerja pun sama, dikelilingi kolega pintar yang sudah berpengalaman, mengetahui hal yang belum aku ketahui. Wah luar biasa. Kecil sekali diriku si bawang ini. Apa yang mereka korbankan sampai bisa menjadi seperti sekarang. Keren. Rasanya kerja keras dan mengejar ilmu ini sudah berada di jalur yang tepat.
Namun ada yang mengganjal. Beberapa dari mereka kepintarannya tidak sebanding dengan sifatnya. Setelah berhenti kerja rasanya baru benar-benar masuk kedunia nyata. Kehidupan yang sebenarnya. Tidak melihat latar belakang, titel berderet dan lainnya. Banyak sekali orang baik. Jadi ingat tulisan besar di gerbang masuk sekolah dulu “Knowledge is Power but Character is More”. Dulu sih sambil lalu saja lihat tulisan itu selama 3 tahun sekarang baru sadar itu bukan sekedar slogan saja tapi sebagai pengingat, adab lebih tinggi dari ilmu.
Terbukalah perspektif baru, aku lebih mengagumi orang baik. Dijaman yang serba mudah ini pendidikan akademis mudah diakses. Bayangkan dimasa depan, dimasa mereka yang menjadi leader menggantikan kita. Orang-orang pintar mungkin akan menjadi standar lalu bersaing dengan siapa mereka? Betul mereka akan bersaing dengan orang pintar yang memiliki karakter.
Jadi apakah sekarang kita merasa mendidik anak menjadi pintar sudah cukup? Atau membangun pondasi karakter yang baik dulu sebelum mulai mendidik anak menjadi pintar?