Marah merupakan manifestasi dari perasaan sedih, kecewa dan takut yang diabaikan.
Aku mendengarnya dari seorang psikolog pada sebuah video pendek. Aku lupa siapa namanya, terlalu fokus dengan materi yang dibawakan. Seperti nonton film yang isinya kita cermati betul namun lupa judulnya. Begitulah kita, memori kita memilih mana informasi yang akan disimpan dan yang bisa diabaikan. Pemilih sekali.
Lanjut pada kalimat awal. Berapa sering kita memeluk 3 perasaan tersebut saat mereka datang? Bukannya menyetujui yang ada malah menolak. Penolakannya juga tidak tanggung-tanggung langsung ditolak mentah-mentah tanpa mereka dapat mengutarakan pendapatnya. Semua yang negatif termasuk emosi, bukan hal yang pantas dirangkul dan diajak untuk duduk bersama ditanyakan asal muasalnya apa penyebab mereka datang menghampiri. Kita yang secara naluriah lebih menerima kepositifan memang gemar melupakan kenegatifan seolah mereka berada di titik buta, tak terlihat, terlihat samar seakan tak tampak.
Dari pengalaman beliau sebagai seorang psikolog yang sudah menangani berbagai klien, hanya satu pertanyaan kuncinya “Luka apa yang kamu rasakan?” Bukan semata mencari pelaku penyebab agresi, yang dibutuhkan adalah pengakuan untuk mencari penyelesaian. Sederhana dan tepat sasaran.
Kehadiran yang tidak dianggap tadi membuat mereka menutup diri mengunci ruangan emosi rapat-rapat lambat laun ruangan tersebut penuh sesak berjejal berisi kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan yang pada akhirnya memberanikan diri untuk menjadi sesuatu yang dianggap kuat, tidak dikerdilkan dan dapat didengar. Semua rasa berubah menjadi sebuah agresi. Kemarahan.
Jadi, kenalilah semua emosi diri tanpa mengesampingkan emosi negatif, berikan perhatian tanpa terkecuali. Rangkul lah semuanya tanpa terkecuali. Pada saat yang tepat biarlah mereka yang mengambil alih perasaan kita untuk melepaskan rasa sakit.