AES 167 Emanasi
joefelus
Saturday November 6 2021, 2:31 AM
AES 167 Emanasi

Hari masih gelap, matahari belum muncul ketika saya meninggalkan rumah. Jalanan dipenuhi dengan dedaunan yang jatuh di tanah bercampur dengan embun yang membeku menjadi butiran-butiran es yang mungil. Cantik sebetulnya kalau diperhatikan dengan seksama, tetapi sangat berbahaya jika tidak hati-hati dan diinjak karena dedaunan menyembunyikan mereka yang menjadikan jalanan licin.

Biasanya Jumat pagi saya pergi berenang. Hari ini saya memutuskan untuk bolos karena ingin menghadiri misa untuk kesembuhan sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri. Walau waktunya bertepatan dengan saat saya berjalan kaki menuju kantor, saya tidak mempedulikan, yang penting suasana hati tetap saya jaga, terlebih karena hari masih gelap dan lalu lintas sangat lengang, sehingga saya dapat berjalan dan mengikuti misa dengan khusuk.

Suatu hal yang manarik tinggal di sini adalah orang tidak terlalu mempedulikan urusan orang lain. Istilahnya mind your own business. Jadi kalaupun saya jalan kaki sambil komat kamit atau membuat tanda salib, tidak ada orang lain yang kemudian bertanya-tanya saya sedang melakukan apa atau malah dikira apakah saya sedang kumat! Tidak! Oleh sebab itu saya bisa melakukan segala sesuatu dengan khusuk.

Mengenai mind your own business, saya juga punya pengalaman lain. Saat itu mungkin sekitar 20 tahun yang lalu. Saya menghadiri pernikahan saeorang sahabat. Upacara dilakukan di sebuah gereja Lutheran. Pulang dari gereja saya yang menggunakan jas lengkap kepanasan. Kebetulan gereja itu tidak jauh letaknya dari asrama mahasiswa tempat saya tinggal, jadi saya jalan kaki dan jas saya lepas. Masih kepanasan juga, akhirnya bajupun saya lepas dan saya melanjutkan berjalan kaki dengan telanjang dada, jas dan baju saya pegang begitu saja. Apakah ada orang yang peduli? Hahaha tidak! Coba bandingkan kalau saya keluar dari Smipa telanjang dada, jangan-jangan saya dikira kumat atau dikira mulai tidak sehat otaknya hahaha!

Begtulah yang saya alami tadi pagi. Suhu udara sangat dingin dan mencapai 0 derajat Celcius. Dengan earphone saya tidak perlu terganggu dengan sekitar saya karena suara dari luar bisa jauh berkurang. Ya untunglah teknologi sekarang memungkinkan noise cancelling, jadi memang saya bisa mengikuti misa dengan sangat khusuk walau berada di jalan raya.

Saya tiba di kantor yang kebetulan sekali kosong, tidak ada siapa-siapa. Saya duduk di meja sambil terus mengikuti jalanya misa. Ini misa yang sangat emosional bagi saya dan sekali lagi merasa beruntung tidak ada orang lain selain diri saya sendiri sehingga beberapa lembar kleenex bisa digunakan tanpa harus khawatir ada yang melihat.

Selesai Misa saya melanjutkan dengan merenung. Kak Andy berkomentar terhadap tulisan saya mengenai perjalanan spiritual yang saya alami akhir-akhir ini dan mengatakan akan hukum kekekalan energy. Sekali lagi kalau seandainya ini benar, mengapa kita bersedih seandainya seseorang menjalani proses transformasi dari satu energy ke energy lainnya?

Saya pernah menulis tentang emanasi (emanation) yang berasal dari bahasa Yunani Ematio yang didefiniskan sebagai pancaran yang berasal dari prinsip pertama, the first reality atau principle. Segala sesuatu berawal dari first reality. Bagaimana jika manusia juga mengalami hal ini dari jaman dulu di awal berlangsung berulang-ulang hingga misalnya menjadi saya! Lalu saya akan melalui rangkaian proses emanasi sebagai sebuah proses yang terus berkesinambungan tanpa akhir karena hukum kekekalan energi tadi. Apakah itu terjadi, walahualam, tapi jika itu benar adanya maka pada dasarnya kita tidak boleh besedih karena jika misalnya seseorang melalui proses emanasi tersebut maka dia tertransformasi ke keberadaan yang lain. Saya sengaja menggunakan keberadaan karena untuk menekankan "ada" nya. Emanasi bukan dari ada menjadi tidak ada, tapi dari ada ke ada yang lain. Sebelum terlalu jauh, sepertinya lebih baik saya belajar dulu. Ini baru ide dari permenungan dengan penegetahuan yang sangat dangkal dan terbatas dan mungkin saja malah ngaco.***

Foto: Wikimedia Common

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
Keren... 🏼😊