Saya sedang mengemudi sendirian sambil mendengarkan lagu menuju tempat olahraga. Sambil menikmati jalan raya yang sepi karena akhir pekan, saya melamun banyak hal.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah metafor inspiratif tentang telur, wortel dan biji kopi. Ini tulisan inspiratif yang sudah sangat lama, bahkan dulu sekali saya pernah menyinggung dalam salah satu blog. Tidak ingat yang mana, tapi saya sangat menyukai kisah ini.
Saya ulang sedikit. Diceritakan ada seseorang mengeluh pada ibunya bahwa hidupnya sangat sulit dan tidak tahu apakah dia akan mampu menghadapinya. Sang ibu tidak banyak berkata-kata, beliau hanya berusaha mendengarkan lalu mengambil sebuah wortel, telur dan biji kopi, memasak air lalu memasukkan satu demi satu.
Begitu selesai, dipanggillah nak perempuannya itu dan bertanya," Apa yang kamu lihat?"
Dijawab,"Wortel, telur dan biji kopi."
Ibu berkata,"Kamu lihat, wortel itu sangat keras, tetapi begitu bersentuhan dengan air panas dia menjadi lembek. Berbeda dengan telur, dia sangat ringkih, mudah pecah dan rapuh, tapi begitu bersentuhan dengan air panas, bagian dalamnya jadi keras. Kopi, ini sangat spesial, Begitu bersentuhan dengan air panas, dia mengubah air panas itu menjadi air kopi! Nah kamu ingin menjadi wortel, telur atau biji kopi?"
Cerita itu ibaratnya kita dalam menghadapi masalah hidup. Apakah kita ingin menjadi seperti wortel yang di awal keras tapi begitu menghadapi masalah menjadi lembek? Atau telur, yang rapuh tapi hatinya mengeras ketika berhadapan dengan rintangan? Dan terakhir apakah kita ingin menjadi seperti kopi yang ketika berhadapan dengan kesulitan kita mengubahnya sesuai dengan jadi diri kita?
Sambil terus melamun saya juga ingat percakapan tadi malam dengan sahabat saya sepulang dari kumpul-kumpul di bar sambil nonton pertandingan ice hokey. Sahabat saya ini berkata," I feel so happy for some reason." Saya jawab," I would be if I were you. How your fate turned around after all the terrible things you have experienced."
Beberapa tahun yang lalu sahabat saya ini mengalami keterpurukan yang luar biasa. Diusir dari apartemennya, dikejar-kejar orang-orang yang menagih uang, istri meninggal dunia. Bayangkan! Semuanya terjadi beruntun hampir di saat yang sama. Dia sama sekali tidak mengeluh bahkan saya yang merasa menjadi sahabatnya sekalipun tidak tahu bahwa dia dipaksa keluar dari apartemennya karena menunggak pembayaran. Ketika dia bercerita saya sampai terharu dan harus mengusap air mata. Teman-teman saya yang lainpun tidak mengetahuinya. Dia menghadapi semua masalah itu dengan tegar tanpa mengeluh. Siapapun tidak pernah menyangka bahwa dia sedang menghadapi berbagai masalah bertubi-tubi!
Yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapi masalah itu. Apakah ingin menjadi wortel, telur atau kopi! Sahabat saya ini menghadapinya dengan luar biasa. Yang tadinya dipaksa keluar dari tempat tinggalnya, sekarang malah mempunyai rumah yang mewah, memiliki kendaraan yang sangat keren dan memiliki jabatan tertinggi di tempat kerjanya. Tidak ada keluhan yang pernah saya dengar, bahkan tidak meminta bantuan orang lain, jangankan meminta tolong, saya dan teman-teman saja tidak tahu bahwa dia sedang menghadapi berbagai masalah! Ya karakter manusia menentukan keberhasilan, menentukan bagaimana menghadapi kesulitan hidup dan menentukan kualitas hidup yang kita jalani!