AES 1441 Dari Bandara Ke Bandara
joefelus
Monday July 28 2025, 11:29 AM
AES 1441 Dari Bandara Ke Bandara

Saya duduk menghadapi sebuah layar TV sangat besar dengan suara bergemuruh air terjun yang ditampilkan di layar itu. Beberapa kelompok traveller berhenti sejenak mengabadikan foto maupun video. Ini jadi semacam atraksi yang menarik. Tapi tidak bagi saya, karena sedang dilanda kesedihan. Bandara ini katanya merupakan salah tastu bandara terbaik di dunia, namun di mata saya saat ini tidak ada yang menarik.

Saya melepas kepergian anak semata wayang di terminal 2 ini. Untuk pertama kalinya dia terbang solo menuju belahan dunia yang lain. Kesedihan iniĀ  adalah sebuah perasaan yang harus saya rangkul dan saya miliki sebab kesedihan yang saya alami ini sangat unik. Sedih karena kami akan berjarak, tapi pada saat yang sama saya bahagia dengan alasan yang sama. Saya sungguh ingin dia jauh dan terbang tinggi berjarak dengan sarangnya.

Di dekat terminal keberangkatan, di bagian imigrasi, di salah satu sudut, sepasang pemuda dan pemudi berpelukan, berciuman lalu berpelukan lagi. Berulang-ulang dan saya menyaksikan suatu kesedihan dan keengganan untuk saling melepaskan. Kesedihan mereka berbeda dengan saya. Mereka enggan melepas, saya lebih bahagia untuk melepas. Tapi kesedihan untuk berjauhan tetap melanda diri saya.

Melihat dia berjalan gontai perlahan-lahan membuat hati saya teriris. Dia berhenti sejenak, mengeluarkan paspor berwarna biru miliknya lalu meletakkannya diatas pemindai. Tak lama pintu terbuka dan dia melangkah maju. Kemudian dia berdiri di depan kamera dan sekali lagi pintu terbuka. Kemudian dia dihampiri seseorang dan mengajak dia ke alat pemindai barang bawaan untuk keamanan. Dia menurunkan ransel dan tas kecilnya lalu berjalan sedikit untuk memungut kembali barang-barang itu begitu selesai.

Proses itu begitu cepat tapi juga begitu lambat. Dia berjalan lagi sementara saya menyaksikan kepergiannya dari jarak yang semakin lama semakin jauh. Hati saya berteriak: "Menolehlah.. Menoleh kebelakang. Saya ingin melihatmu sekali lagi!" Dan benar saja dia menoleh. Saya melambaikan tangan tinggi-tinggi yang lansung dia balas ditambah senyuman. Dia berjalan terus lalu hilang dibalik dinding.

Saya terus berdiri, setengah berharap dia akan kembali tapi juga berharap dia terus pergi meraih masa depannya. Setelah menghela napas panjang, saya mulai berbalik dan berjalan gontai. Saya masih harus pergi ke terminal 3 dimana saya juga akan terbang kembali ke tanah air. Ada rasa begitu malas untuk bergerak, tapi juga tidak sabar ingin kembali ke seharian saya, dan bebas melakukan apa saja.

1 bulan terakhir ini setidak-tidaknya ada 12 kali saya menuju bandara dan 9 kali terbang ke berbagai tempat hingga saya menjadi terbiasa dengan berbaga prosedur keamanan dan juga melalui berbagai pintu imigrasi. Hari ini saya masih harus terbang sekali lagi, lalu akan mencoba menggunakan MRT di Jakarta. Ini bulan yang paling sibuk dengan berbagai perjalanan. Rasa lelah dan kurang tidur, rasa bahagia dan sedih berganti-ganti.

"Good Morning." Kata saya sambil menyerahkan paspor dan nomor pemesanan.

"How many luggages to check in?" Tanya wanita itu

"Just one." Jawab saya pendek

"Gate 19, have a safe flight." Kata wanita itu sambil menyerahkan kembali paspor saya dengan sehelai borading pass terselip di dalamnya.

Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu berbalik dan berusaha mencari gate yang dituju. Masih sekitar 4 jam lagi sebelum pesawat saya berangkat. Masih banyak waktu, saya akan mencari foodcourt yang katanya sangat terkenal karena harga sangat terjangkau dan biasa didatangi karyawan bandara. Saya ingin mencoba nasi kandar untuk pertama kalinya. Katanya ini makanan khas Malaysia yang mendapat pengaruh kuliner India. Ini akan menjadi makanan terakhi saya di negara ini dan malam nanti akan bertemu seorang sahabat untuk makan malam di Jakarta.

Saya mencari tempat duduk tersembunyi sambil menunggu waktu brunch. Saya masih belum selesai mengolah perasaan unik ini.Ini pengalaman yang sangat menarik dan saya belum terbiasa menghadapinya.

Bandara ini mulai terlihat sangat sibuk, walau di berbagai lorong masih terlihat sangat lengang. Cocok digunakan untuk bersembunyi sejenak. Saya lirik jam tangan sejenak, masih sangat banyak waktu. Saya ingin menikmati suasana hati ini. Pandangan saya tertuju pada sebuah sudut. Saya akan pergi ke sana dan menenggelamkan diri dengan perasaan yang campur aduk ini.

You May Also Like