Kenapa bisa bersama? Tanyanya.
Karena mampu.
Tidak pernah ada kemauan, hanya ada kemampuan.
Dan kemampuan mula-mula adalah mampu untuk mau.
Kalau membayangkannya saja tidak mampu, apalagi menyatakannya. Kalau menginginkannya saja masih bilang tidak layak, bukanlah keinginan namanya itu. Karena keinginan hadir dari kemampuan.
Kemampuan hadir darimana dong? Tanya lagi.
Dari kebutuhan. Kalau kebanyakan minum, ingin buang air kecil kan. Itu keinginan atau kebutuhan? Kalau lihat ada drone bagus yang harganya supermahal, lalu membayangkan diri sedang memainkan drone itu sehingga ingin membelinya walaupun tidak ada uang. Itu keinginan atau kebutuhan?
Bisa jadi, keinginan adalah kebutuhan. Paling tidak itu adalah indikator kebutuhan. Seperti menginginkan makanan berasa manis, indikator badan membutuhkan glukosa karena terjadi suatu proses iternal (metabolik gitu ya? gatau juga) yang butuh energi. Menginginkan makanan berasa asin karena jaringan neuron sedang butuh garam (sodium atau natrium atau apa ya? lupa) untuk meningkatkan intensitas kelistrikan saraf.
Ingin drone canggih supermahal dan membayangkan sedang memainkannya mungkin butuh power, penguasaan, pengendalian, eksplorasi, penemuan, dan pemenuhan kesadaran lingkungan.
Maka kebutuhan itu perlu dipenuhi. Bukan keinginannya yang dipaksakan.
Kecuali tiba-tiba nemu seratus juta rupiah di kresek hitam yang nyangkut di kaki pas lagi jalan-jalan di trotoar pusat kota (kan biasa habis hujan sampah dari selokan naik ke jalan ya) silakan memaksakan keinginan. Mampu soalnya.
Begitu pula dengan kebersamaan. Kalau tidak mampu sendirian, gak kan mampu bersama. Malah bikin berat pergerakan. Ini jadi kayak keinginan yang dipaksakan.
Itu bukan kebutuhan yang dipenuhi. Karena kebutuhan yang dipenuhi adalah menemukan bahwa untuk melampaui diri perlu adanya orang lain yang sefrekuensi.
Diri yang seperti apa?
Diri yang telah mampu menemukan kebutuhan di balik keinginan, melihat jalan dan tantangan, dan mengerti kebebasan dan keterbatasan.
Orang lain yang seperti apa?
Yang walaupun tanpa diri kita, mereka mampu menjalani kehidupannya sendirian. Yang walaupun tanpa mereka, kita mampu menjalani kehidupan kita sendiri sendirian.
Pada tingkatan kepenuhan kebutuhan mendasar.
Kebersamaan yang seperti apa?
Yang saat kedua, ketiga, keempat, kelima orang dst.. dst.. yang sudah mampu sendirian ini memilih dan memutuskan bersama, keterbatasan dan tantangan masing-masing menjadi dapat dimasuki, dialami, dilampaui. Meningkatkan kualitas kesadaran diri. Kemenyadaran diri.
Melampaui pemenuhan kebutuhan mendasar, menuju pemenuhan kebutuhan menyeluruh.
Oh..
Ngerti?
Engga.
Heu.. yaudah. Belum mampu berarti. Akan koq nanti, seiring waktu akan paham koq, kita kan niscaya selalu berkembang. Diterima atau tidak.