Lawan dari manja bukanlah mandiri, justru adalah tidak berdaya. Kemandirian ada di antara keduanya itu. Pertemuan antara vulnerability dengan durability.
Ada kesediaan untuk menjadi rentan dengan menyadari batasan cakupan dan capaian diri. Sehingga tidak manja yang sibuk menagih sistem struktur aturan.
Memang tampaknya terkendali, justru itulah indikator kemanjaannya. Tidak mampu melepaskan yang tidak terkendali, jadi kerap menagih janji. Padahal bisa jadi itu bukan janji.
Soal daya tahan adalah soal bertahan. Pada satu yang dijanjikan, menyelaraskan katanya dengan nyatanya. Fokus pada satu untuk mendapatkan semuanya. Karena berdaya.
Bukankah ketidak berdayaan seringkali tampak dari keseringan improvisasi. Mengambil semuanya karena tak berdaya mengunci satu sendi. Tampil baik di hal spesifik, ternyata berantakan di yang general.
Mandiri berarti meninggalkan kemanjaan dan ketidak berdayaan itu. Meninggalkan berarti sudah pernah ada di masing-masing itu. Menuju ke tengah, seperti tertulis di paragraf pertama.
Pertanyaan besarnya bukan pada bagaimana. Bukan juga pada apa. Pertanyaan besarnya ada pada kapan. Sepuluh tahun lagi? Satu tahun lagi? Akhir minggu ini? Ini katanya atau nyatanya?
Kapan? Sudah tiga kali tiga kali putaran lah ini.
Kapan beranjak dari manja ke mandiri, tanpa kelebihan masuk area tak berdaya?
Kapan beranjak dari tidak berdaya ke mandiri, tanpa kelewatan masuk area manja?