AES#012 Vagus Nerve Sebagai Jembatan Biologis Antara Tubuh dan Keheningan Batin
Murdeani
Friday May 16 2025, 11:45 AM
AES#012 Vagus Nerve Sebagai Jembatan Biologis Antara Tubuh dan Keheningan Batin

Di tulisan sebelumnya, kita sudah memahami bagaimana hubungan antara vagus nerve dan saraf parasimpatis. Karena fungsi tersebut, Vagus nerve juga menjadi jembatan biologis antara tubuh dan keheningan batin.

Kesadaran bukan cuma soal pikiran atau jiwa loh… ia juga berjejak lewat tubuh. Dan vagus nerve adalah jalur utama tempat kesadaran itu mengalir dalam sistem saraf kita. Jadi jangan pandang tubuh kita hanya sebagai alat atau obyek ya. Saat vagus nerve aktif dalam mode tenang atau rest & digest, tubuh merasa aman, dan kesadaran bisa hadir utuh. Kita jadi bisa lebih mendengar, merasa, merespons dengan jernih, dan bukan bereaksi karena mode bertahan/survival mode (fight, flight, freeze) (baca: Survival vs Thriving).

Ini sebabnya saat kita merasa lelah, kita perlu beristirahat, namun ketika belum sempat beristirahat tapi sudah “direcoki” oleh anak yang rewel, kita kadang langsung masuk mode autopilot lagi: fight or flight or freeze (baca: Lima Lapis Kesadaran).

Vagus nerve bukan cuma satu arah menyampaikan sinyal dari otak ke tubuh, tapi 80% sinyalnya justru dari tubuh ke otak. Jadi bisa reverse. Artinya jika tubuh merasa nggak aman, kesadaran sulit hadir dengan jernih, karena otak akan disibukkan dengan sinyal ancaman. Dan sebaliknya, jika tubuh merasa aman, sinyal ke otak adalah “Kamu aman, kamu bisa hadir. Dengarkan hidup”.

Saat kita merasa penuh kasih, bersyukur, takjub, terhubung, welas asih dsb, vagus nerve yang aktif. Ini adalah mode kesadaran yang menyatu.

Vagus nerve bisa mulai terdisregulasi ketika tubuh atau sistem saraf kita terlalu sering atau terlalu lama merasa tidak aman. Ini bisa terjadi perlahan, kayak air merembes dna akhirnya membentuk pola. Bayangkan jika di pagi hari kita bangun telat, semua kegiatan dilakukan dengan tergesa-gesa, belum lagi terlibat cekcok dengan pasangan karena kecerobohan kita akibat tergesa-gesa. Lalu kita berangkat ke kantor dan terjebak kemacetan, sepanjang jalan kita mengutuki pengendara yang lain, tata kota yang semrawut dll. Tiba di kantor belum sempat menarik nafas sudah dihadapkan dengan rutinitas kantor yang padat dan multitasking. Walaupun kita sempat rileks sebentar, tapi tensinya naik terus, resultan grafik stresnya tetap akan naik. Bayangkan kita lakukan itu setiap hari. Kita mendidik tubuh kita bahwa harus selalu “produktif” dg cara seperti itu.

Bersambung ke post berikutnya. Kita akan bahas apa saja pemicu disregulasi vagus nerve dan bagaimana cara lembut mengaktifkannya kembali.

---

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7684/aes013-cara-mengaktifkan-vagus-nerve

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7682/aes011-vagus-nerve-dan-hubungannya-dengan-sistem-saraf-parasimpatis